Para pembicara dalam sarasehan Bangun Sinergi yang dihelat MWC NU Demak Kota di gedung IHM, Domenggalan, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
Para pembicara dalam sarasehan Bangun Sinergi yang dihelat MWC NU Demak Kota di gedung IHM, Domenggalan, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
Para pembicara dalam sarasehan Bangun Sinergi yang dihelat MWC NU Demak Kota di gedung IHM, Domenggalan, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

DEMAK – Kekuatan kultural organisasi kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU) di negeri ini makin menyusut. Tradisi kultural makin lama makin hilang lantaran tergerus politik kekuasaan yang dijalankan para tokoh NU yang berafiliasi ke partai politik. Arah gerakan politik kekuasaan itu berdampak pada ditinggalkannya basis-basis akar rumput yang semestinya menjadi sasaran pemberdayaan NU. Fakta bahwa, mayoritas warga NU di pedesaan hingga kini ternyata masih banyak yang terlilit kemiskinan. Karena itu, peran sosial NU selama ini patut dipertanyakan.

Sejumlah fakta itu terungkap dalam sarasehan dalam rangka Harlah NU ke-89 di gedung Ikatan Haji Muslimat (IHM), Kampung Domenggalan, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota, kemarin.

Dengan mengusung tema “Bangun Sinergi” sarehan berusaha mengupas berbagai persoalan di organisai kaum nahdliyin. Dr Musahadi secara terus terang mengkritik dan menggugat peran sosial NU. Sebab, kemiskinan warga NU hingga kini masih melekat dan identik dengan warga Nahdliyyin. “Keadaan seperti ini membuat masyarakat NU hanya menjadi objek kelompok politik dan pemerintah yang mengusung program instan pengentasan kemiskinan. Warga NU menjadi sasaran bantuan langsung tunai (BLT) maupun bantuan beras miskin (raskin) dan lainnya,” katanya.

Tidak bisa dipungkiri, NU kurang perhatian pada isu strategis transformasi sosial ekonomi seperti liberalisasi ekonomi, kapitalisme dan neokolonialisme. Akibatnya, basis NU terus terpinggirkan dalam bidang ekonomi. “Kemiskinan selalu menjadi bagian dari sejarah masyarakat NU. Kondisi itu sepertinya sulit diatasi secara sistematis,” tambah Musahadi yang asli kelahiran Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, Demak.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) hingga 2014, ada sebanyak 28.280.000 jiwa penduduk Indonesia masuk kategori miskin. Jumlah itu, 11,25 persen dari seluruh jumlah penduduk baik yang ada di perkotaan maupun pedesaan. Meski ada perbaikan, namun dinilai tidak signifikan. “Kita prihatin karena masalah kemiskinan di negeri ini ternyata mayoritas dialami warga Nahdliyyin,” tambahnya.

Ketua PCNU Demak, Kiai Musadad Syarief mengatakan, untuk mengatasi kemiskinan warga NU ini butuh langkah yang tepat dalam melakukan pemberdayaan mereka. Perlu pemberdayaan dalam meningkatkan ekonomi mereka. Salah satu caranya, mendirikan usaha yang ringan tapi menghasilkan. “Misalnya saja, usaha konter pulsa di desa. Di mana kelebihan dari keuntungan itu digunakan untuk pemberdayaan tersebut,” katanya.

Sarasehan yang digelar MWC NU Demak Kota ini dimoderatori Syamsul Huda (Dosen Stikom) Semarang. Dalam acara itu didatangkan sejumlah narasember. Yakni Sekda Pemkab Demak, Singgih Setyono; Dosen UIN Walisongo Semarang, Dr Musahadi; Ketua PCNU Demak KH Musadad Syarief; Ketua Syuriah PCNU KH Alawi Mas’udi; Kepala Kementerian Agama Demak M Thobiq serta Pengasuh Ponpes Fatkhul Huda Sidorejo Sayung, KH Zaenal Arifin Ma’shum. (hib/fth)