Diabaikan Pemerintah, Bukit Cinta Mangkrak

167
SEPI PENGUNJUNG : Sarana dan prasarana tempat wisata Bukit Cinta yang tidak lengkap dan banyak yang mangkrak serta rusak, menyebabkan jumlah pengunjung semakin sedikit. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
SEPI PENGUNJUNG : Sarana dan prasarana tempat wisata Bukit Cinta yang tidak lengkap dan banyak yang mangkrak serta rusak, menyebabkan jumlah pengunjung semakin sedikit. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
SEPI PENGUNJUNG : Sarana dan prasarana tempat wisata Bukit Cinta yang tidak lengkap dan banyak yang mangkrak serta rusak, menyebabkan jumlah pengunjung semakin sedikit. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

BANYUBIRU—Kawasan wisata Bukit Cinta di Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, kondisinya semakin mengkhawatirkan. Banyak bangunan mangkrak di area pariwisata tersebut.

Tempat parkir, pendopo, dermaga sudah 3 tahun diberhentikan proses pembangunannya. Demikian halnya dengan sarana prasarana yang rusak, sudah tidak tersentuh. Padahal, Bukit Cinta menyumbang APBD Kabupaten Semarang sebesar Rp 192 juta setiap tahun dari 261 juta yang ditargetkan Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang.

Dari informasi yang berhasil dihimpun di lokasi kemarin, Minggu (1/2), setiap weekend Bukit Cinta dikunjungi wisatawan lokal dari Salatiga dan Semarang. Jumlahnya hampir mencapai 200 orang perhari. Permasalahan lokasi parkir yang belum terbangun, menyebabkan wisatawan banyak mengeluh. Lantaran, jika hujan becek dan menyebabkan mobil kotor.

Siddiq, 43, pemilik kapal motor di Bukit Cinta mengaku akibat tidak ada perawatan dari Dinas Pariwisata, pendapatan sewa kapalnya berkurang. Dulu, ketika awal dibangun, hampir setiap hari ramai wisatawan. Bahkan, untuk sewa kapal, sampai antre. Ironisnya sekarang, untuk mendapat penyewa kapal agak sulit. Pasalnya Bukit Cinta sudah mulai sepi pengunjung. “Banyak tangga dan kursi yang rusak. Selain itu, bangunan mangkrak dan berlumut merusak pandangan wisatawan,” katanya.

Koordinator Lapangan Wisata Bukit Cinta, Siswanto mengatakan banyak bangunan di kawasan Bukit Cinta yang belum rampung penggarapannya. Dari parkir, ruang utama dan dermaga, mangkrak sudah 3 tahun lamanya. Padahal jika dikembangkan, potensi Bukit Cinta sangat bagus.

“Banyak wisatawan yang mengeluhkan lantaran banyak prasarana rusak, namun tidak segera diperbaiki. Saya yang di lapangan sering ditegur. Tapi saya tidak bisa apa-apa, karena yang berwenang adalah Dinas Pariwisata,” tandasnya.

Untuk pengembangan dan menambah pemasukan Bukit Cinta, Siswanto mengatakan perlu adanya perbaikan secepat mungkin. Karena kenyamanan wisatawan berimbas kepada jumlah wisatawan yang datang. Promosi penting, tapi promosi melalui mulut ke mulut akan lebih efektif. Wisatawan datang kemudian merasa nyaman dan menceritakan kepada teman atau keluarganya, maka pengunjung akan bertambah. Bukan hanya itu, pembuatan penunjuk arah harus segera dibuat. Dari arah Semarang ataupun Salatiga.

“Banyak wisatawan yang ingin menuju Bukit Cinta, tapi tersesat karena tidak ada penunjuk arah. Rata-rata mereka yang datang dari Semarang. Potensi paling bagus untuk Bukit Cinta adalah air. Jika dikelola dan disinergikan dengan baik, akan memberikan pemasukan APBD lebih besar,” pungkasnya. (abd/ida)