Sebulan Diaspal, Sudah Rusak Lagi

190
UMUR SEBULAN: Sebuah truk melintas di jalan Dusun Gadingan Desa Banyubiru yang bergelombang dan sebagian aspalnya mengelupas. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
UMUR SEBULAN: Sebuah truk melintas di jalan Dusun Gadingan Desa Banyubiru yang bergelombang dan sebagian aspalnya mengelupas. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
UMUR SEBULAN: Sebuah truk melintas di jalan Dusun Gadingan Desa Banyubiru yang bergelombang dan sebagian aspalnya mengelupas. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MUNGKID – Ruas jalan di sepanjang Desa Banyubiru, Kecamatan Dukun mulai rusak. Padahal, jalan tersebut baru selesai diaspal pada akhir Desember 2014 lalu. Lokasi yang paling parah berada di Dusun Gadingan, Sanggrahan dan Karang Anyar.

Masrur, 45, warga Gadingan menuturkan, kerusakan jalan tersebut sering memicu kecelakaan lalu lintas. Pengendara motor yang hendak menghindari jalan bergelombang sering menjadi korban. Mingkin karena kaget, pengendara tak bisa mengendalikan stang sehingga akhirnya terjatuh. Ada pula yang bersrempetan karena sama-sama menghindari lubang.

“Semenjak jalannya rusak, sering sekali ada yang kecelakaan di sini, karena ngindarin jalan yang bergolembang itu,” katanya, Jumat (30/1).

Warga lain, Mutiah, 45, mengungkapkan, retakan kecil terlihat setelah 5 hari jalan itu selesai diaspal dan dilebarkan. Lalu pada hari ke-11, retakan mulai terlihat lebih banyak dan cukup lebar. Seminggu terakhir ini, kerusakan makin parah.

“Siang saja bahaya, apalagi kalau malam hari jalan ini nggak kelihatan, karena penerangan masih minim. Kadang kalau nggak hati-hati dan masih keinget jalannya mulus, ya pasti kaget tiba-tiba dapat lubang atau dapat aspal yang bergelombang,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Desa Banyubiru, Wintoro, membenarkan jika jalan-jalan di sepanjang desanya banyak yang mengalami kerusakan. Disinggung soal banyaknya truk muatan pasir atau batu yang melintas, dikatakannya, tak terlalu berpengaruh. Menurutnya, kerusakan itu dipicu oleh air sungai yang kerap meluap hingga ke badan jalan jika curah hujan terlalu tinggi, sehingga aspal tergerus.

“Sayangnya, perbaikan jalan tidak dibarengi dengan pembuatan drainase, jadi air kadang meluap dan membawa batu-batu kecil hingga ke badan jalan yang jelas membahayakan pengguna jalan,” paparnya. Sungai kecil di pinggir jalan letaknya lebih tinggi dibanding jalan.

Sebagai kepala pemerintahan desa, Wintoro sangat berharap pemerintah kabupaten memperhatikan kualitas material yang lebih baik. Mengingat jalan tersebut menjadi akses paling ramai dilalui kendaraan menuju Gunung Merapi.

“Sebetulnya dengan adanya pelebaran dan pengaspalan jalan beberapa waktu lalu, kami sudah senang. Tapi alangkah baiknya kalau drainase dan kualitas material dipikirkan, Insyaallah jalan akan awet,” tuturnya.

Sementara Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerja Umum Energi Sumber Daya Mineral (DPU ESDM) Kabupaten Magelang David Rudiyanto menyebutkan kerusakan terjadi akibat banyaknya truk pasir dengan beban berat melintas. Ditegaskannya, DPU ESDM sudah berkoordinasi dengan pihak pelaksana jasa agar segera diperbaiki.

“Mereka (pelaksana, Red) harus sanggup untuk memperbaiki jalan yang rusak. Sebab, hingga enam bulan ke depan, jalan tersebut masih dalam masa pemeliharaan,” jelasnya. (put/ton)