Pernah Kerja Restoran, Ingin Humas Pemprov Gaul

264
BERJIWA MUDA: Sinoeng NR dan istrinya saat menerima ucapan selamat dari Sekda Sri Puryono. (FOTO: DOK PRIBADI)
BERJIWA MUDA: Sinoeng NR dan istrinya saat menerima ucapan selamat dari Sekda Sri Puryono. (FOTO: DOK PRIBADI)
BERJIWA MUDA: Sinoeng NR dan istrinya saat menerima ucapan selamat dari Sekda Sri Puryono. (FOTO: DOK PRIBADI)

Kejutan terjadi saat upacara pengambilan sumpah/janji jabatan dan pelantikan pejabat pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pempov Jateng kemarin. Nama Sinoeng NR muncul menjadi Kepala Biro Humas Sekretariat Daerah menggantikan Agus Utomo, atasannya.

AHMAD FAISHOL, Gubernuran

NAMA lengkapnya Sinoeng Noegroho Rachmadi, namun ia kerap disapa Mas Sinoeng NR. Di kalangan awak media, namanya cukup terkenal karena sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bagian Pengelolaan Informasi Biro Humas Setda Jateng. Tak disangka, karirnya begitu melejit dan mengantarkannya sebagai kepala biro termuda di lingkungan Pemprov Jateng.

Ditemui usai pelantikan, Sinoeng mengungkapkan rasa syukurnya dipilih menempati posisi tersebut. Meskipun ucapan selamat dan pujian dari beberapa teman dan kolega membanjiri ponselnya, ia mengaku semua itu bukanlah kebanggaan, tetapi justru merupakan amanah yang harus senantiasa diemban. ”Ini merupakan tanggung jawab yang besar, dan harus selalu dijaga,” ungkap pria kelahiran Semarang, 31 Desember 1968 ini merendah.

Sinoeng sendiri merupakan pria yang dibesarkan di lingkungan keluarga Jawa (Solo) yang telah menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemprov Jateng sejak 21 tahun lalu. Tepatnya pada 1994, ia mendaftar menjadi staf di Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda). Kemudian berlanjut di Badan Kepegawaian Daerah (BKD), dan Biro Pengembangan Daerah (Bangda) hingga akhirnya dipindah ke Biro Humas pada 2009.

”Meskipun dunia kehumasan tidak begitu asing bagi saya, posisi yang baru ini merupakan tantangan bagi saya untuk menjadikan humas Pemprov Jateng lebih baik, ngepop dan gaul,” imbuh pria sebelumnya pernah bekerja di salah satu restoran waralaba terkenal di Indonesia selepas lulus kuliah 1992 ini.

Pria dengan kacamata minus ini mengakui, posisi yang dijabatnya kini tidak terlepas dari pengalaman yang pernah ia dapatkan. Sewaktu duduk di bangku kuliah, ia telah bergabung dengan Pers Mahasiswa Balairung Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta. Dari situlah yang kemudian menjadikan ia belajar membuat jejaring yang luas dan membangun kemitraan dengan berbagai pihak.

”Saya baru menyadari rahasia Tuhan sekarang. Ternyata pergulatan pers kampus waktu itu memberikan saya basic stimulasi untuk menempati posisi ini. Padahal saya tidak pernah membayangkan sebelumnya,” ungkap suami dari Ir Denok Respati ini.

Sinoeng menceritakan, sewaktu kuliah ia pernah diperintahkan Rizal Malaranggeng yang tak lain kakak kelasnya untuk mewawancarai salah satu tokoh nasional Mukti Ali yang juga Menteri Agama RI di era itu. Awalnya ia sempat menolaknya. Namun ia terus dipaksa karena hanya dirinya yang menguasai bahasa Jawa halus.

”Dari situlah yang membuat saya kemudian berani menghadapi orang sehingga menjadi pribadi yang ramah, komunikatif, dan selalu membuka ruang pembelajaran atas hal-hal yang baru,” aku ayah dari Akbar Rizki ini.

Tak pelak, berbagai kesempatan dan pengalaman pun terus mendatangi Sinoeng. Lantaran kemampuannya menguasai bahasa asing, ia kerap mengikuti pendidikan teknis baik di dalam maupun luar negeri. Misalnya mengikuti teknis perencanaan pembangunan, SDM, manajemen HRD, pengembangan wilayah yang digelar di Jerman, Australia, Swedia, dan Korea.

”Berbekal hal tersebut, saya ingin menjadikan Humas Pemprov Jateng menjadi lebih baik, komunikatif, responsif dan menjadikan awak media menjadi darling,” janji pria yang tinggal di Perum Griya Lestari Klaster A-11 Gondoriyo, Beringin, Ngaliyan, Semarang ini.

Sinoeng menegaskan, media darling yang dimaksud bukan berarti selalu dekat dengan wartawan. Akan tetapi selalu memberikan informasi yang dibutuhkan agar mereka tidak kehilangan momentum. Karena itu, interaksi dan komunikasi yang mendalam mutlak dijaga karena humas merupakan jembatan komunikasi antara pemeritnah dan masyarakat.

”Kami menyadari era sekarang itu beda dengan era dulu. Sekarang setiap orang berhak mengetahui apa saja tentang birokrat pemerintah,” ungkap alumnus Magister Managemen Stikubank Semarang ini.

Sinoeng mengakui bahwa media merupakan ”DPRD bayangan” di mana mereka menjadi representasi masyarakat. Selain bertugas dalam pewartaan, mereka juga merupakan agen pencerdasan kehidupan berbangsa. Karena itu, ia akan berusaha untuk selalu memberikan penjelasan atas segala yang terjadi.

”Saya ingin menjadikan humas pemprov itu gaul dalam arti menjadi sahabat bagi awak media. Agar tidak terjadi jarak, saya selalu menekankan bahwa saya awak media yang kebetulan bekerja di pemerintah daerah,” pungkas pemilik moto hidup: patuh dan setia kepada kebaikan dan hal-hal baik agar Tuhan melakukan hal baik yang tidak bisa kita lakukan ini. (*/aro/ce1)