DPU Klaim Faktor Alam

182

“Saya lihat sendiri bukti fotonya. Jadi, air meluap tinggi sampai melewati talut. Bahkan, air sampai keluar bendungan.”
Supardiyono.

Kepala Dinas PU

TEMANGGUNG—Jebolnya bendungan di Desa Salamsari, Kecamatan Kedu, diklaim karena faktor bencana alam. Luapan air bendungan menjadikan konstruksi bangunan bendungan menjadi rusak.

Klaim tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Temanggung, Supardiyono.

“Saya lihat sendiri bukti fotonya. Jadi, air meluap tinggi sampai melewati talut. Bahkan, air sampai keluar bendungan. Jadi, bisa saya katakan bahwa bendungan rusak, karena memang karena faktor alam,” kata Supardiyono, saat ditemui di DPRD Temanggung, Kamis (29/1) kemarin.

Pembangunan proyek bendungan, saat ini masih dalam masa pemeliharaan hingga enam bulan ke depan. Supardiyono memberikan toleransi kepada kontraktor untuk melakukan perbaikan.

“Sampai sekarang, solusinya okelah pemeliharaan molor menunggu air surut dulu. Tahun ini memang curah hujan tinggi sekali. Padahal, tahun-tahun sebelumnya, kalaupun musim hujan, tidak sampai seperti ini.”

Ia yakin, kontraktor tidak akan melakukan tindakan menyeleweng untuk menuntaskan pemeliharaan selama enam bulan ke depan. Karena jaminannya masih ditahan oleh pihak DPU.

Manajemen CV Indra Prasta, ketika dikonfirmasi mengaku sudah mengajukan surat pernyataan tanggungjawab tertanggal 26 Januari lalu.

Maryono, perwakilan CV Indra Prasta menjelaskan, saat ini bendungan tersebut masih di bawah tanggungjawab pihaknya. Sebab masih dalam masa pemeliharaan. Sesuai perjanjian kontrak, waktu pengerjaan antara 14 Juli hingga 10 Oktober.

“Tentu kami masih akan melakukan perbaikan, karena masih menjadi tanggungjawab kami sampai April nanti. Jadi, sampai sekarang pun belum kami lakukan serah terima, karena memang belum selesai.”
Ia lantas menunjukan surat pernyatan tanggungjawab kepada koran ini.

Dalam surat tertulis bahwa kejadian ambrol sebanyak tiga kali. Yaitu, 22 Desember, 11 Januari, dan 25 Januari. Surat tersebut ditandatangani dan dibubuhi materai secara resmi oleh Direktur CV Indra Prasta Purnomo Hadi dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) DPU Temanggung.

Seperti diberitakan, bendungan di Desa Salam dua kali mengalami jebol. Padahal, bendungan itu baru saja dibangun. Bendungan yang dimaksud, untuk menjamin pengairan di area persawahan Desa Salamsari. Padahal, desa yang dimaksud, jadi desa percontohan swasembada pangan.

Suyitno Saputro, perangkat Desa Salamsari menjelaskan, bendungan yang dialiri air Sungai Kuas, sebetulnya merupakan bendungan lama. Pada 1980-an, bendungan tersebut rusak akibat diterjang banjir dan sejak itu nonaktif.

Oleh pemerintah desa, lantas diajukan untuk mendapat perbaikan. Hingga kemudian, pada APBD 2014, pembangunan bendungan dianggarkan oleh Pemkab.

“Selama Januari, sudah dua kali jebol. Saya lupa tepatnya kapan, tapi karena hujan dan debit air jadi tinggi, makanya bendungan yang sudah jadi itu malah jebol,” kata Suyitno. Kepala Desa Salamsari, Tri mengatakan, hingga kini pihak kontraktor belum berkomunikasi dengannya.
“Seingat saya, kontraktor cuma menghubungi saya waktu mau memulai pengerjaan. Hingga sekarang belum ada serah terima. Lagipula memang belum selesai dan pihak kontraktor masih harus menyelesaikan perbaikan. Kalau sekarang belum juga selesai perbaikan, ya bisa jadi terkendala musim hujan itu,” jelasnya.

Dari data yang dihimpun, pembangunan bendungan digarap oleh CV Indra Prasta, beralamat di Jalan Carikan I/86 Kedu, Temanggung. Anggaran yang digelontorkan Pemkab untuk pembangunan bendungan sebesar Rp377.5 juta dari APBD 2014 Pemkab. Sementara pagu anggarannya Rp 384 juta. (mg3/isk)