Dinperindag Razia Apel Berbakteri

176
TURUN: Seorang pedagang apel di Pasar Johar mengaku terjadi penurunan penjualan hingga 40 persen. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
TURUN: Seorang pedagang apel di Pasar Johar mengaku terjadi penurunan penjualan hingga 40 persen. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
TURUN: Seorang pedagang apel di Pasar Johar mengaku terjadi penurunan penjualan hingga 40 persen. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Provinsi Jateng dan Kota Semarang serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah toko buah dan pusat perbelanjaan di Kota Semarang. Hal ini dilakukan menyusul beredarnya buah impor jenis apel granny smith dan royal gala, yang ditengarai tercemar bakteri patogen listeria monocytogenes di Amerika.

Kepala Dinperindag Jateng, Edison P Ambarura, mengatakan, sidak yang dilakukan instansinya sebagai bentuk pengawasan terhadap apel berbakteri tersebut, serta menindaklanjuti imbauan Kementerian Perdagangan yang melarang impor apel dari Negeri Paman Sam tersebut.

”Khususnya apel yang dikemas di grower bidart bros California karena ada indikasi terkontaminasi bakteri yang membahayakan bagi siapa saja yang mengonsumsinya. Langkah tersebut juga bagian dari upaya memberikan perlindungan terhadap konsumen, karena dikhawatirkan masyarakat banyak yang belum tahu terhadap kebijakan tersebut,” ujar Edison kepada Radar Semarang, Kamis (29/1).

Lokasi pertama yang dirazia adalah pusat perbelanjaan Carrefour di Srondol Kulon. Di tempat ini, petugas menemukan beberapa apel jenis granny smith namun setelah dikonfirmasi apel tersebut tidak berasal dari pengemasan yang dilakukan di California. Edison mengimbau agar petugas swalayan tersebut memberikan informasi bahwa apel yang dijual tidak berasal dari California.

”Seperti halnya yang ada di Superindo Jalan Sriwijaya, pihak toko sudah memberikan label bahwa apel granny smith dan royal gala aman, karena apel tersebut berasal dari negara bagian Washington, sedangkan yang bermasalah dari grower bidart bros California,” lanjutnya.

Edison menjelaskan, bakteri listeria monocytogenes yang terkandung dalam apel tersebut merupakan bakteri patogen yang menyebabkan keracunan. Adapun beberapa gejala yang timbul yakni dapat mengakibatkan gangguan pada pencernaan, seperti mual, muntah, nyeri, serta demam.

”Jika ada swalayan yang menjual jenis apel yang terindikasi berbakteri akan dilakukan penarikan. Kami juga mengimbau kepada para pedagang agar buah tersebut tidak dijual ke konsumen. Diharapkan masyarakat, baik pembeli maupun penjual untuk mengonsumsi dan membeli buah lokal ketimbang buah impor,” tuturnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Widoyono mengatakan, meski bukan ranah dari pihaknya, namun ia tetap mengimbau bagi masyarakat Kota Semarang khususnya, agar lebih berhati-hati dalam membeli sebuah makanan tidak terkecuali buah-buahan.

”Ke depan kita (Dinas Kesehatan) akan melakukan koordinasi dengan pihak Dinperindag untuk menekan angka persebaran apel yang terindikasi bakteri yang berbahaya tersebut. Untuk warga Kota Semarang, agar selalu dapat berhati-hati dalam membeli buah-buahan baik itu di swalayan maupun di tempat lain,” pesannya.

Sementara itu, Bupati Semarang Mundjirin meminta pedagang buah di Kabupaten Semarang untuk jujur dalam berjualan. Sebab, ada kabar sejumlah pedagang melepasi stiker identitas yang tertempel pada buah. Bupati juga memerintahkan dinas terkait untuk menarik dari pasaran jika ada temuan apel asal Amerika tersebut.

Mundjirin mengatakan, saat ini di Kabupaten Semarang banyak pedagang buah segar lokal, termasuk buah apel dari luar negeri. Pihaknya meminta agar pedagang jujur dalam berjualan sehingga tidak merugikan konsumen.

”Ya, banyak buah segar dari sini, dan dari luar negeri, seperti dari Jepang, Taiwan, dan Amerika. Biasanya ada stikernya. Kita sudah instruksikan kepada dinas terkait untuk mengecek. Kita minta stikernya jangan dikleteki. Jadi tahu ini apel dari mana,” tutur Mundjirin, Kamis (29/1) siang.

Menurut bupati, biasanya buah segar asal Amerika tersebut dijual di toko-toko modern. Ia juga meminta Satpol PP dan Dinas Koperasi UMKM Peridag untuk segera bekerja mengecek keberadaan apel-apel tersebut. Jika ada temuan segera dilakukan penarikan dari pasar.

”Kalau ada indikasi penjualan apel asal Amerika yang diduga mengandung bakteri, satpol PP bisa bantu menarik dari peredaran. Buat temen media juga seharusnya tidak menampilkan gambar apel lokal dalam berita apel berbakteri. Kasihan petani kita, nanti konsumen ora gelem tuku apel Malang,” katanya. (ewb/tyo/aro/ce1)