Dapat Penghargaan dari UI, Cuma Bawa Tas Kresek

196
MULAI DARI NOL: Suratinah (kanan) bersama suami dan boneka karyanya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
MULAI DARI NOL: Suratinah (kanan) bersama suami dan boneka karyanya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
MULAI DARI NOL: Suratinah (kanan) bersama suami dan boneka karyanya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

Meski hanya lulusan SD, Suratinah, kini sukses menjadi pengrajin boneka di kampung halamannya, di Dusun Candi, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Seperti apa?

PUPUT PUSPITASARI, Magelang

LINGKUNGAN tempat tinggal Suratinah, masih sangat asri. Banyak pohon rimbun memayungi sepanjang jalan menuju rumah Suratinah. Meski medannya cukup berliku dan curam, namun sudah jalanan sudah mulus.

Ilalang di pinggir-pinggir jalan, menggeleng pelan tertiup empasan angin. Seolah mengucapkan selamat datang bagi siapapun yang memasuki kampung itu. Jaraknya sekitar 3 kilometer dari Jalan Pucang untuk sampai ke rumah Suratinah.

Di rumah Suratinah, sebuah gudang menyimpan ratusan model boneka. Mulai ukuran kecil, sedang, hingga besar.

Catatan koran ini, Suratinah pernah merantau di Bandung, mengikuti kakak-kakaknya bekerja di pabrik boneka. Waktu itu, dia baru berusia 13 tahun. Orang tua, ketika itu, tak mampu menyekolahkan Suratinah ke jenjang yang lebih tinggi. Jadilah, dia terpaksa bekerja untuk meringankan beban keluarga.

“Sampai lulus SD, saya masih belum bisa baca. Saking pengen sekolah, saya pinjem sepatu, seragam, dan tas teman saya, biar saya kelihatan anak sekolah,” kenang Suratinah, saat di temui di rumahnya, kemarin.

Dia merasakan kerasnya hidup. Masa bermainnya, terpangkas untuk mencari uang. Bangun pukul 08.00, ia langsung membersihkan rumah bosnya dan berangkat ke pabrik. Selama 10 tahun, rutinitas itu ia jalani.

“Pernah saya menangis di depan bos. Saat itu saya disuruh membaca kertas yang ada tulisannya. Tapi saya nggak ingat itu apa, karena nggak bisa baca. Akhirnya, bos saya memanggil semua karyawan yang nggak bisa baca dan mengundang guru privat untuk ngajari kami baca,” akunya sambil mengelus dada mengingat hal itu.

Meski hanya seorang karyawan, perempuan yang akrab di sapa Tin ini mengaku mendapatkan kepercayaan dari sang bos. Ketika terjadi krisis, pesanan boneka sepi. Tin pun ikut dirumahkan.

“Dua bulan saya nganggur. Tapi pengeluaran juga tetap. Saya berpikir, kalau saya begini terus bagaimana saya bisa makan? Tapi saya terus berpikir untuk membuat usaha. Kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa?” tanyanya.

Beruntung, saat itu, dia sudah menikah dengan Sukaryo pada 1994.
Sang suami pria asal Purbalingga. Ia juga bekerja di pabrik boneka. Karyo juga hanya lulusan SD. Meski ngontrak, mereka rajin menabung Rp 50 ribu per bulan.

Sembari menabung, Tin dan Karyo membuat boneka di rumah kontrakannya, jika ada pesanan. Sesekali, sembari bercerita, Suratinah alias Tin, mengusap air matanya yang meleleh. Sambil menghela nafas, dia melanjutkan kisahnya.

Tin mengenang, pernah suatu ketika, saat mengais rezeki–sambil menyusui buah hatinya– dia menjahit boneka-boneka pesanan. Karena anaknya bergerak, jari si anak pun kena mesin jahit hingga berdarah-darah.

“Saya ingat betul, waktu itu anak saya belum ada satu tahun. Kalau ingat itu, saya selalu menangis,” kenangnya. Setelah kejadian itu, Tin bersama suami, memutuskan kembali ke kampung.

Tak memikirkan laku atau tidak, tabungan bersama yang terkumpul Rp 5 juta, disepakati untuk membuat usaha boneka kecil-kecilan di Candi. “Modalnya nekat,” ungkapnya. Usaha itu membuat boneka mulai dilakoni pada 1997.

Usia Suratinah kini suah tak lagi muda. Namun, memori masa sulitnya, masih tersimpan di pikirannya. Perempuan 41 itu menuturkan, merintis usaha bukan perkara mudah. Merasakan getirnya hidup, hampir setiap hari ia lakoni. Ditolak, direndahkan, di pandang sebelah mata, bahkan diusir pun pernah ia alami.

Toh, Suratinah tak patah arang. Ia justru tetap bersemangat mewujudkan mimpi kecilnya menjadi harapan yang besar.

“Kami berdua sama-sama cari pelanggan. Masuk ke toko-toko. Saya bahkan pernah diusir karena nungguin pemilik toko. Saya tetap nggak mau pergi, sampai akhirnya saya ketemu dengan pemiliknya. Alhamdulillah, mau mencoba produk saya,” cetusnya.

Saat itulah, orderan terus bermunculan. Hingga saat ini, tak terhitung berapa jumlah pelanggan boneka Suratinah. Hampir merata di beberapa kota besar di pulau Jawa. Boneka-boneka Suratinah bahkan telah merambah hingga ke Kalimantan dan NTT. Berkat kerja kerasnya, omzet Suratinah kini berkisar Rp 30-50 juta per bulan.

“Saya dibantu 6 karyawan, tetap. Mereka semua dari tetangga sini. Kalau orderan lagi banyak, ibu-ibu pada SMS saya, mengucapkan terimakasih dan mendoakan usaha ini lancar. Alhamdulillah, nggak pernah sepi, ini berkat doa mereka juga,” beber Suratinah sembari mengatakan bahwa tiap hari, satu karyawannya bisa membuat 60-120 boneka tergantung ukuran.

Keajaiban pun dirasakan Suratinah. Pada 2007, Tin dipanggil ke Jakarta untuk menerima penghargaan kategori Citi Microentreprenuership Award dari Fakultas Ekonomi UI Jakarta. Ia didapuk sebagai pemenang pertama pengusaha kecil dan mikro.

“Saya lugu, nggak tahu acaranya bagaimana. Saya masuk ke tempat itu sambil bawa kresek. Sedangkan yang lain, pakai tas-tas bagus. Saya minder sebenarnya. Tapi inilah keadaan saya yang sebenarnya, saya mantap saja masuk dan duduk bersama yang lain.”

Meski tak mengenyam pendidikan tinggi, toh Suratinah kini terbilang sukses. Ia dan Karyo tak mau anak-anaknya mengalami hal yang sama. Mereka kerja banting tulang untuk menyekolahkan anaknya.

“Walau kami lulusan SD, tapi anak-anak tidak boleh seperti kita. Biar kami saja yang merasakan susah, mereka harus bisa meraih cita-citanya yang lebih tinggi,” ucap Sukaryo.

Pasangan suami istri ini, memiliki dua putri. Kustianti, tercacat sebagai mahasiswi semester empat Unsiq Wonosobo. Sedangkan anak keduanya, Puspitasari, duduk di bangku kelas 6 SD.

“Saya berterima kasih sama bos saya dulu, karena pernah diberi kesempatan menjadi karyawan. Sekarang kami bisa mandiri. Komunikasi kami terus terjaga sampai sekarang.”

Pada 2014 lalu, pemilik brand Tin Panda Collection itu, menerima penghargaan lagi. Ia kembali membawa pulang hadiah uang tunai Rp 15 juta plus trofi penghargaan. (*/isk)