Janji Tertibkan 120 Unit

199
ILLEGAL : Sebuah warung minuman ringan tetap berdiri ditepi jalan raya lingkar selatan Kota Demak. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
ILLEGAL : Sebuah warung minuman ringan tetap berdiri ditepi jalan raya lingkar selatan Kota Demak. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
ILLEGAL : Sebuah warung minuman ringan tetap berdiri ditepi jalan raya lingkar selatan Kota Demak. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

DEMAK – Jalur lingkar selatan Kota Demak, dikepung warung atau gubuk liar. Berdasarkan data yang ada, jika dihitung dari arah pertigaan atau depan SMPN 1 Demak hingga Zebor Trengguli tercatat ada sekitar 120 warung liar. Dari jumlah itu, ada 6 warung yang dipakai untuk karaoke. Namun, diantaranya sudah ada yang ditutup.

Para pemilik warung datang dari berbagai daerah. Ada yang dari Desa Jogoloyo, Desa Kendaldoyong, Kecamatan Wonosalam, Kelurahan Kadilangu, Kecamatan Demak Kota, maupun warga lain dari wilayah Kecamatan Guntur, Kecamatan Bonang dan lainnya. Warung yang terbuat dari kayu bambu seadanya ini masih nekat didirikan dipinggiran jalan raya Pantura tersebut. Meski sudah diberikan penyuluhan, namun warung yang digunakan untuk berjualan minuman ringan ini masih nekat berdiri.

Bahkan, mereka memanfaatkan lahan sawah orang lain dengan sistem sewa. Ada yang menyewa warung Rp 1 juta pertahun. Ada pula yang menempati lahan warga dengan uang sewa hingga Rp 7 juta pertahun. Kepala Satpol PP Pemkab Demak, Yulianto melalui Kasi Penyuluhan, Lilik Handoyo mengatakan, pihaknya sudah sering melakukan penyuluhan kepada para pemilik dan penghuni warung tersebut. Namun, masih ada yang mengabaikan imbauan yang disampaikan itu. “Ada yang manut. Ada pula yang tidak (membandel),”katanya.

Dia menambahkan, dalam penyuluhan yang dilakukan secara berkala, para pemilik warung diminta tidak menjual minuman keras (miras), membuat ruang karaoke dan sejenisnya. Tak hanya itu, para penjaja makanan dan minuman ringan juga dilarang mengenakan pakaian seronok atau tidak pantas. Berdasarkan pengakuan para penjaja minuman itu, berpakaian agak menor agar bisa menarik pembeli atau konsumen, utamanya para sopir truk yang mampir ngombe (minum). “Penyuluhan sudah kita sampaikan kepada mereka. Kita sendiri terkendala keterbatasan personel,”jelasnya. Karena itu, pihaknya berharap penyuluhan yang disampaikan itu agar dipatuhi. Jika tidak, maka akan ditindak tegas. (hib/fth)