Dua Tersangka Narkoba Diringkus di Pos Satpam

165
DIRINGKUS : Wakapolres Semarang, Kompol Erwin H Dinata menginterogasi dua tersangka penyalahgunaan narkoba jenis sabu-sabu yang diringkus setelah melakukan transaksi di dekat Pos Satpam sebuah pabrik. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
DIRINGKUS : Wakapolres Semarang, Kompol Erwin H Dinata menginterogasi dua tersangka penyalahgunaan narkoba jenis sabu-sabu yang diringkus setelah melakukan transaksi di dekat Pos Satpam sebuah pabrik. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
DIRINGKUS : Wakapolres Semarang, Kompol Erwin H Dinata menginterogasi dua tersangka penyalahgunaan narkoba jenis sabu-sabu yang diringkus setelah melakukan transaksi di dekat Pos Satpam sebuah pabrik. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN-Petugas Satuan Narkoba Polres Semarang meringkus dua pengguna sabu-sabu. Adalah Joko Prihatin alias Sastro, 36, warga Pasar Kliwon, Surakarta yang ngekos di Lingkungan Kelurahan Tambakboyo, Ambarawa, Kabupaten Semarang dan Dadang Dwi Kasyanto, 31, penduduk Karangjati, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Polisi juga menyita barang bukti sabu-sabu yang disembunyikan di dalam bungkus permen dan handphone yang digunakan untuk melakukan transaksi.

Penangkapan kedua tersangka berawal dari informasi masyarakat yang menyebut bahwa Dadang yang bekerja di sebuah pabrik di Kabupaten Semarang menggunakan sabu-sabu. Polisi lantas menyelidiki dan mendapatkan informasi bahwa Dadang baru saja bertransaksi sabu-sabu dengan Joko di Pos Satpam pabrik tempatnya bekerja.

“Begitu ada informasi sedang bertransaksi, langsung kami sergap. Mereka kami tangkap setelah melakukan transaksi sabu-sabu,” ujar Wakapolres Semarang, Kompol Erwin H Dinata didampingi Kasat Narkoba, AKP Khuwat, Rabu (28/1) kemarin.

Penangkapan bandar narkoba cukup sulit karena mereka menggunakan sistem terputus antara bandar dan pengedarnya.
Sementara itu, pelacakan melalui nomor telepon cukup sulit karena tidak bisa mengetahui posisi pasti si bandar.
“Pelacakan lewat telepon cukup sulit, karena hanya mampu melacak pada radius tertentu. Sedangkan di radius itu, ada ribuan orang. Selain itu, alat yang lebih lengkap hanya dimiliki Densus 88,” kata Erwin.

Dari hasil penyelidikan, Joko mengaku hanya sebagai kurir atau pengedar lintas kota. Sabu-sabu tersebut diambil dari seseorang di Solo dan dijual kepada Dadang yang sudah beberapa kali menjadi pelanggannya. Joko mengaku baru tiga kali menjadi kurir sabu. Modusnya, pesan sabu via telepon pada seseorang di Solo kemudian membayar transfer via bank. Selanjutnya, bandar sabu memerintahkan Joko untuk mengambil barang di tempat yang telah ditentukan.

“Sebenarnya saya bekerja sebagai penjual serabi di Grabag, Magelang. Mengantar sabu ini hanya sampingan untuk tambah penghasilan. Selama ini, saya juga tidak kenal dengan bandar sabu. Karena komunikasinya lewat telepon saat pesan dan bayar transfer via bank. Keuntungannya hanya dapat menggunakan sedikit sabu sebelum dikirim,” kata Joko.

Pengiriman terakhir setelah ada permintaan sabu dari Dadang dengan paket kecil sebesar 0,5 gram seharga Rp 750 ribu. Biasanya paket sabu itu dimasukkan dalam bungkus permen untuk mengelabui polisi. Selanjutnya, sabu yang dibungkus dalam plastik permen di antar ke tempat Dadang bekerja, di Dusun Samban, Bawen. “Saya ditangkap di Pos Satpam tempat Dadang bekerja. Selanjutnya Dadang turut ditangkap,” kata Joko. Sedangkan Dadang mengaku hanya tiga kali mengonsumsi sabu-sabu. Awalnya hanya iseng, namun lama kelamaan ketagihan. (tyo/ida)