Dibekuk, Staf Khusus Presiden Abal-Abal

239
MENGECOH GUBERNUR: Supardi, Rizal dan Sarjono saat diperiksa di Mapolda Jateng. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
MENGECOH GUBERNUR: Supardi, Rizal dan Sarjono saat diperiksa di Mapolda Jateng. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)
MENGECOH GUBERNUR: Supardi, Rizal dan Sarjono saat diperiksa di Mapolda Jateng. (ABDUL MUGHIS/RADAR SEMARANG)

GUBERNURAN – Seorang pria bernama Ir Supardi, warga Jalan Graha Persada Sentosa Blok B 4 No 9 RT 15 RW II Bekasi Utara, ditangkap aparat Intelkam Polda Jateng. Pasalnya, pria berpenampilan elegan menggunakan baju safari itu mengaku sebagai Staf Khusus Presiden RI Joko Widodo dari Kementerian Sekretariat Negara (Kemensesneg). Ia ditangkap saat menghadap Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di ruang kerjanya Kompleks Gubernuran Lantai 2, Selasa (27/1) sekitar pukul 09.30. Pelaku bahkan menunjukkan surat tugas monitoring perjalanan dinas kepresidenan RI yang nyaris seperti sungguhan.

Supardi datang bersama dua temannya, Sarjono, 51, warga Kampung Senjoyo Jalan Dr Cipto Semarang yang tinggal di Bekasi, dan seorang pria berinisial Rizal, mengaku dari KPK. Mereka menyampaikan maksud kedatangannya untuk melakukan monitoring anggaran perjalanan dinas, dan melakukan audit dana bantuan bencana longsor di Banjarnegara.

Kepala Tata Usaha Gubernur, Hanung CS mengatakan, saat datang ke kantor gubernuran penampilan Supardi dan dua temannya sangat meyakinkan. ”Mereka juga menunjukkan surat tugas yang ditandatangani Kasubag Sespri Kepresidenan Sandi Ariono, SE dan ada stempel Kementerian Sekretariat Negara,” ungkap Hanung CS.

Dikira staf khusus kepresidenan sungguhan, Supardi dan dua temannya dipersilakan masuk ke ruang kerja gubernur. Rupanya Gubernur Ganjar tak mau terkecoh dan tertipu. Saat itu juga, Ganjar langsung menelepon Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno. Namun karena Mensesneg sedang sibuk rapat, telepon tersebut akhirnya diterima oleh staf khusus Arif Dwipayana. Saat itu, Ganjar mendapat petunjuk, kalau tidak ada utusan dari Kementerian Sekretariat Negara terkait monitoring. Begitu pun tidak ada staf khusus kepresidenan bernama Supardi dengan jabatan IV/B Nomor PIN 20015. Supardi pun mati kutu. Aksinya itu langsung dilaporkan kepada polisi. Petugas Intelkam Polda Jateng langsung mendatangi lokasi kejadian. Supardi pun dibekuk.

”Saya heran saja, tiba-tiba ada tiga orang mau ketemu saya bawa surat tugas dari Setneg. Suratnya luar biasa dan menarik, karena mau monitoring, kop surat tertulis sekretariat negara. Judul suratnya: Surat Monitoring Perjalanan Dinas. Setelah saya telepon, ternyata tidak ada beginian. Langsung saya suruh mampir (ditangkap, Red) ke kantor polisi saja,” terang Ganjar Pranowo ditemui usai rapat di gubernuran, kemarin.

Kasubdit IV Direktorat Intelkam Polda Jateng AKBP Ahmad Sukandar mengatakan, ada tiga pria yang diduga hendak melakukan upaya penipuan terhadap gubernur. Namun mereka belum berhasil melakukan tindak pidana penipuan. ”Sudah ditangkap, atas nama Supardi terkait pemalsuan dokumen. Sudah kami periksa dan cek, dokumen-dokumen yang dimiliki palsu. Dia mengaku staf khusus kepresidenan RI,” terang Sukandar.

Sedangkan dua temannya sebagai saksi. Yakni, Sarjono dan Rizal. Pihaknya mengaku sempat menerima informasi di antaranya mengaku dari KPK. Namun yang dimaksud KPK bukan singkatan Komisi Pemberantasan Korupsi.
”Satu di antaranya mengaku anggota LSM KPK singkatannya Komite Penegak Keadilan. Rizal saya telepon tidak diangkat,” ujar Sukandar.

Pihaknya akan melimpahkan kasus Supardi ini kepada penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng untuk proses hukum lebih lanjut.

Sementara saksi Sarjono ditemui Radar Semarang di ruang Intelkam Polda Jateng mengaku hanya diajak oleh Supardi untuk menemani saja. ”Saya hanya diajak dan mengantarkan saja. Saya tidak tahu kalau dokumen-dokumen itu palsu,” ungkapnya.

Diceritakannya, ia berangkat dari Bekasi pada Senin (26/1) pagi, mengendarai mobil mewah jenis Proton Cam Pro bernomor polisi B-1065-TMD. Sampai di Semarang sekitar pukul 17.00 kemudian menginap di wisma DPRD Jalan Menteri Supeno Semarang. ”Saya disuruh menunjukkan tempat karena saya asli Semarang,” katanya.

Sedangkan Rizal, kata dia, ikut dengan maksud ingin berfoto dengan Gubernur Jateng. ”Saya sudah kenal lama dengan Supardi karena teman kuliah. Saya juga tidak dikasih apa-apa. Hanya diminta mengantarkan saja. Bilangnya mau monitoring,” ujarnya.

Sebelumnya, lanjut Sarjono, ia mengaku sempat diajak ke Purwakarta untuk menemui Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Purwakarta pada 15 Januari 2015 lalu. ”Keperluannya juga monitoring. Tahu saya ya dia bekerja sebagai staf khusus kepresidenan. Tidak tahu kalau dokumen-dokumen itu palsu. Saya juga hanya menunggu di luar saja,” katanya.

Aparat kepolisian sempat menggeledah mobil milik Supardi di halaman Mapolda Jateng. Ditemukan berkas-berkas mencurigakan yang diduga digunakan untuk mengelabui para pejabat. Mobil tersebut juga tampak lebih garang, karena ditempeli sejumlah atribut stiker bertuliskan Istana Kepresidenan terpampang di kaca depan dan kap belakang. Gantungan serupa juga dipajang di kaca spion dalam mobil. Ada juga stiker Perbakin di pelat nomor belakang. Di dalam mobil, ditemukan topi bertuliskan Istana Kepresidenan. Selain itu ada tas berisi dua buku berwarna hijau yang salah satunya berisi kliping berita dari surat kabar.

Sarjono mengaku baru mengetahui pekerjaan Supardi sebagai staf khusus kepresidenan sekitar satu bulan lalu. Hingga kemarin, Supardi dan Sarjono masih diperiksa di SPKT Polda Jateng. Supardi saat dicegat wartawan memilih bungkam. (amu/fai/aro/ce1)