KAJEN-Belum genap sebulan, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Pekalongan telah menyerang sedikitnya 11 orang. Pada bulan pertama 2015 ini, virus dengue yang menular lewat serangan nyamuk Aedes Aegypti tersebut telah mengakibatkan tiga korban tewas.

Kasi Penindakan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pekalongan, Suwondo mengatakan bahwa jika dibandingkan dengan Januari 2014, jumlah kasus DBD mengalami penurunan yakni sebanyak 6 kasus.

“Jumlah kasusnya menurun, dari 17 kasus di Januari 2014 menjadi 11 kasus di Januari 2015 ini. Namun jumlah korban meninggal meningkat,” ungkapnya, Selasa (27/1) kemarin.

Suwondo memaparkan, total kasus yang terjadi sepanjang 2014 sebanyak 179 kasus dengan korban meninggal 5 orang. Dua di antaranya meninggal di bulan Januari. Sedangkan pada 2015, tiga korban anak-anak meninggal di Januari. Adalah korban meninggal asal Desa Kalimojosari Kecamatan Doro dengan korban berusia 7 tahun. Kemudian balita berusia empat tahun dari Desa Ponolawen Kecamatan Kesesi dan anak berusia 6 tahun dari Desa Tosaran Kecamatan Kedungwuni.

Oleh karena itu, masyarakat diharapkan bertindak aktif dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta mengetahui secara dini gejala DBD. Sejumlah ciri-ciri penderita DBD adalah mengalami demam tinggi sekitar 7 hari berturut-turut, muncul bintik-bintik merah di permukaan kulit, trombosit mencapai 1.000 serta kekentalan darah meningkat.

“Jika tubuh panas selama 7 hari tanpa sebab, harus segera diperiksakan ke dokter atau Puskesmas. Untuk mengetahui positif atau negatifnya terkena DBD, harus melalui tes laboratorium. Yang perlu diingat, tanda-tanda bintik merah terkadang tidak tampak, terutama untuk tubuh yang gemuk,” jelasnya.

Namun, masyarakat kerap menganggap remeh bahwa demam yang diderita sekitar sepekan hanyalah penyakit biasa. Sehingga obat yang digunakan hanya obat turun panas yang beredar di pasaran. Padahal, penyebab kematian korban, rata-rata disebabkan keterlambatan penanganan akibat buta deteksi DBD.

Suwondo menjelaskan bahwa setelah panas berturut-turut hingga tujuh hari, demam yang dialami penderita DBD kemudian turun. Saat itulah masyarakat biasa beranggapan penyakitnya sudah sembuh. “Padahal itu fase paling berbahaya, pre shock. Terlambat diketahui, akhirnya terlambat juga penanganannya,” paparnya.

Melihat tren serangan penyakit DBD meningkat di awal 2015, Dinkes menyatakan status waspadai Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD. Terlebih pada musim penghujan yang berpotensi menurunkan daya tahan tubuh, sekaligus semakin pesatnya populasi jentik nyamuk di tempat-tempat penampungan air.

“Sebenarnya yang paling utama itu PSN. Namun upaya fogging juga kami lakukan di zona KLB. Yakni di daerah yang terdapat tiga hingga lima penderita DBD. Di antaranya di Desa Rowocacing, Desa Madukaran, Desa Tangkil Tengah Kecamatan Kedungwuni. Kemudian Desa Kalimojosari Kecamatan Doro, Desa Watusalam Kecamatan Buaran, Desa Surobayan Kecamatan Wonopringgo dan Desa Ponolawen Kecamatan Kesesi,” jelasnya.

Sesuai jadwal, pada Rabu (28/1) ini, fogging akan dilakukan di Desa Nyamok Kecamatan Kajen kemudian Kamis (29/1) di Desa Tosaran Kecamatan Kedungwuni. (hil/ida)