Adopsi Kurikulum Internasional dari Queensland University

139
TINGKATKAN KEMAMPUAN: Sejumlah mahasiswa dari Australia saat bertemua pejabat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, kemarin. (IST)
TINGKATKAN KEMAMPUAN: Sejumlah mahasiswa dari Australia saat bertemua pejabat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, kemarin. (IST)
TINGKATKAN KEMAMPUAN: Sejumlah mahasiswa dari Australia saat bertemua pejabat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, kemarin. (IST)

TUGUREJO – Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah menggandengan Queensland University of Technology Australia (QUT), untuk meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan yang ada di Indonesia. Kegiatan dengan tajuk Developing International Health Experience in Central Java ini, melibatkan 10 mahasiswa dari Australia untuk mengembangkan kemampuan tenaga kesehatan dengan cara pengembangan kurikulum.

Fasilitator Program, Yuswanti mengatakan, jika kegiatan tersebut merupakan salah satu cara mengembangkan pendidikan atau kurikulum di bidang kesehatan yang secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas tenaga kesehatan yang ada di Indonesia. ”Kurikulum yang dipakai perguruan tinggi yang ada di Indonesia masih berstandar nasional. Sedangkan di Australia sudah berstandar internasional, kita mau meniru hal tersebut agar tenaga kesehatan kita memiliki kualitas yang setara,” kata Yuswanti yang juga Wakil Direktur RSUD Tugurejo ini.

Menurut dia, kurikulum berstandar internasional sangat diperlukan oleh universitas yang ada di Kota Semarang dan Indonesia pada umumnya. Kerja sama yang sudah dilakukan antara Dinkes Pemprov dan Queensland ini sudah berlangsung sejak tahun 1997 dengan fokus kerja sama pengembangan pendidikan keperawatan. ”Fokusnya masih pada pendidikan keperawatan secara umum, temasuk memperkenalkan kebudayaan yang ada di Indonesia dan meningkatkan sistem kesehatan yang ada di dua negara,” paparnya.

Rencananya rombongan juga akan berkunjung ke Kecamatan Gunungpati untuk membangun jamban guna memutus rantai penyakit yang disebabkan oleh kotoran manusia. ”Sanitasi bersih di daerah tersebut kurang diperhatikan. Kesadaran masyarakat di sana pun sangat rendah untuk memiliki jamban, padahal kotoran manusia bisa menyebabkan penyakit yang bisa menyebabkan kematian,” pungkasnya. (den/zal/ce1)