Sedih Dianggap Lecehkan Agama

149
KOMEDI: Hanung Bramantyo (kiri) dan Mike Lucock saat meet and greet film Hijab di Platinum Cineplex. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
KOMEDI: Hanung Bramantyo (kiri) dan Mike Lucock saat meet and greet film Hijab di Platinum Cineplex. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
KOMEDI: Hanung Bramantyo (kiri) dan Mike Lucock saat meet and greet film Hijab di Platinum Cineplex. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

MAGELANG-Sutradara nasional Hanung Bramantyo kembali menuai kontroversi lewat film terbarunya yang berjudul Hijab. Banyak pihak yang menilai Hijab merupakan film yang bagus, tapi ada pula yang menilai film tersebut melecehkan agama. Hal yang sama juga dialami film-film karya sebelumnya, Perempuan Berkalung Sorban, Tanda Tanya (?) dan Cinta Tapi Beda.

Peraih piala Citra kategori sutradara terbaik 2004 dan 2007 ini mengaku membuat film genre drama komedi ini dengan melepas keseriusan sebuah film yang bernuansa agama menjadi lebih natural.
“Saya terinspirasi dari ustad-ustad yang memberikan dakwah namun sersan, iya serius tapi santai. Saya kagum saja seperti ustad Maulana yang memberikan dakwah kepada jamaah tanpa ada kata yang jorok, jamaahnya juga ketawa,” kata Hanung saat acara meet and greet film Hijab di Platinum Cineplex, Jumat (23/1) malam.

Didampingi salah satu pemeran dalam filmnya Mice Lucock, dia berujar, film bisa sebagai media dakwah, namun juga dapat menginspirasi penontonnya. Apalagi dalam film terbarunya ini, ada empat karakter wanita yang tiga diantaranya berjilbab dan satu belum berjilbab, pada akhirnya berjilbab semua. Mereka tetap berkarir namun tetap menjaga kehormatan suami masing-masing saat di luar rumah.

“Ini juga dakwah bagaimana nyamannya seorang wanita memakai jilbab. Terlepas dari wajib, suka atau tidak suka pakai jilbab. Menurut saya perempuan itu lebih cantik kalau pakai jilbab,” tutur suami dari artis Zaskia Adya Mecca yang juga main dalam Hijab.

Hanung mengaku sedih ketika filmnya ini dianggap melecehkan agama. Dia menyampaikan, kisah yang diangkat memang realita zaman sekarang. Dia mencontohkan banyak wanita yang berjilbab dengan banyak latar belakang. Ada yang berjilbab syari, adapula yang berjilbab sorban, lalu ada yang berjilbab fashion dengan beragam model. Itulah yang dia coba angkat dalam sebuah film agar lebih natural. “Pada dasarnya film itu cermin dan kaca,” jelas sutradara film Soekarno itu.

Film terbaru Hanung ini dari segi pasar memang masih kalah dengan karyanya terdahulu, Ayat-Ayat Cinta. Film yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El Shirazy ini ditonton sekitar 3,6 juta orang. Sementara Hijab, target 300 ribu penonton pun masih jauh dari kenyataan. “Ternyata lebih gampang bikin filmnya ketimbang promosinya. Ini baru mencapai 50 persen saja belum ada, ya baru sekitar 80 ribu penonton lah,” keluhnya.

Menurutnya, pemilihan judul Hijab diperkirakan membuat film ini menjadi segmented di mata masyarakat. “Sebenarnya bukan karena kita segmented banget. Tapi mungkin sebelum orang nonton, baca judulnya Hijab, terus yang nggak berjilbab jadi nggak nonton. Padahal niat kami dengan judul itu tidak untuk menyudutkan salah satu pihak,” ujarnya.

Sementara itu, Mike Lucock, jebolan VJ MTV ini mengaku senang bisa berakting di film Hijab. Dia mengaku mendapatkan kesempatan untuk mengeluarkan kemampuannya dalam memerankan karakter seseorang. “Ini film komedi tapi bukan komedi yang sembarangan. Ceritanya nggak bisa ketebak di depan,” ungkapnya.

Mike mengaku, saat ditawari main film ini, terbesit di pikirannya ini film religi di mana orang yang salah akhirnya mendapatkan hidyah. Namun setelah diberitahu konsep dan jalan ceritanya, dia langsung mengiyakan tawaran itu. “Ternyata kebalikan dari yang kita pikirkan, ya sudah langsung ambil saja,” jelasnya. (put/ton)