BISNIS BARU: Salah satu rumah kos kuda di Desa Tegalwaton, Tengaran. (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)
BISNIS BARU: Salah satu rumah kos kuda di Desa Tegalwaton, Tengaran. (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)
BISNIS BARU: Salah satu rumah kos kuda di Desa Tegalwaton, Tengaran. (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)

Rumah kos rupanya tidak hanya untuk disewakan bagi para perantau. Tersedia juga rumah kos bagi hewan, khususnya kuda balap. Fasilitasnya pun memadai, bahkan disediakan mandi air panas bagi kuda yang ngekos. Seperti apa?

DHINAR SASONGKO, Tengaran

SIANG kemarin, wilayah Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang cukup sepi. Tidak banyak terlihat aktivitas masyarakatnya, karena mayoritas penduduknya adalah petani dan bekerja di luar desa.

Salah satu yang menonjol di desa ini adalah adanya lintasan pacuan kuda yang cukup besar dan representatif. Di arena itu, kerap diadakan lomba pacuan kuda yang pesertanya dari luar daerah.

“Nah, setiap ada lomba pacuan, banyak pemilik kuda dari luar kota memilih menitipkan kudanya di rumah warga sekitar,” terang Kepala Dusun Rekesan Ngelo, Desa Tegalwaton, Bagio, kepada Radar Semarang kemarin.

Karena banyaknya permintaan itu, akhirnya di dusun yang dipimpinnya muncul belasan kos – kosan kuda. Salah satunya rumah kos kuda milik Sulis, 45, yang tidak lain adalah mantan kadus setempat yang tinggal di Dusun Rekesan Ngelo, tidak jauh dari lintasan pacuan kuda.

Dijelaskan Sulis, biaya kos untuk seekor kuda sebesar Rp 250 ribu- Rp 350 ribu per bulan. Tinggi rendahnya harga kos bergantung kepada model ‘kamar’ kuda. Kamar yang dimaksud adalah kandang kuda biasa. Ada yang permanen dari batu bata, ada juga yang dari kayu. Pemilik kos wajib menyediakan listrik untuk penerangan, serta air untuk memandikan kuda pagi dan sore.

“Tapi untuk pakan dan perawatan seperti mandi dan mengajak kuda berkeliling ditanggung pemilik kuda,” jelas Sulis.

Biaya kos itu memang relatif murah jika dibanding dengan harga kuda balap, di kisaran Rp 150 juta untuk kuda yang sangat biasa. Sementara kuda yang berkelas, harganya bisa mencapai miliaran rupiah. “Ongkos untuk mengawinkan kuda saja mencapai Rp 25 juta,” katanya.

Saat ini, Sulis menyediakan lima kamar kos bagi kuda, namun kemarin hanya terisi tiga. Ketiganya adalah kuda milik pengusaha asal Semarang. “Saya baru membuat kandang ini setahun yang lalu, biayanya sekitar Rp 20 juta. Kalau terisi memang lumayan, bisa untuk biaya sekolah anak.” jelas Sulis.

Hal senada diungkapkan Suminah, 50, pemilik rumah kos kuda lainnya. Di rumahnya, terdapat empat ekor kuda yang kos. Ia mengaku bila musim lomba, kos – kosan kuda akan penuh setidaknya sebulan sebelum lomba pacuan digelar. “Menjelang lomba pun, kita menyediakan air panas untuk mandi kuda – kuda itu,” terang Suminah.

Sementara keluhan warga terkait banyaknya kuda yang dikoskan adalah kotoran yang terkadang tidak dibersihkan oleh perawatnya.

“Kami sudah ingatkan kepada perawat kuda untuk selalu memelihara kebersihan. Harapannya, ada pemanfaatan kotoran kuda menjadi biogas, sehingga bermanfaat bagi masyarakat lain juga,” jelas Bagio.(*/aro)