PANEN BENGKOANG : Seorang petani memanen bengkoang dari lahannya. Bengkoang terpaksa dijadikan alternatif petani akibat sawah mereka terserang hama tikus. (Mahfudz alimin/ radar semarang)
PANEN BENGKOANG : Seorang petani memanen bengkoang dari lahannya. Bengkoang terpaksa dijadikan alternatif petani akibat sawah mereka terserang hama tikus. (Mahfudz alimin/ radar semarang)
PANEN BENGKOANG : Seorang petani memanen bengkoang dari lahannya. Bengkoang terpaksa dijadikan alternatif petani akibat sawah mereka terserang hama tikus. (Mahfudz alimin/ radar semarang)

BATANG – Hama tikus yang menyerang persawahan di Kabupaten Batang menyebabkan panen padi menurun drastis. Sehingga sebagian petani memilih beralih menanam palawija di sawah garapannya.

Hama Tikus menjadi permasalahan yang meresahkan sebagian besar petani di Batang. Petani pun seakan sudah kehabisan akal dalam menghadapi hama tersebut, sebab tikus tak bisa dibasmi dengan pestisida. Hingga sebagian dari mereka lebih memilih menanam palawija untuk mengolah sawahnya.

Salah satunya Zaenal Arifin 43, warga Sedayu Kecamatan Bandar. Hasil panen padi di setengah hektare sawahnya mengalami penurunan pada musim lalu. Ia mengatakan pada panen-panen sebelumnya sawahnya bisa menghasilkan 2 ton padi. Namun akibat hama tikus yang menyerang hasilnya menurun 50 persen. “Biasanya tiap satu rakit sawah, bisa menghasilkan 4 kwintal padi, namun panen kemarin hanya 2,5 kwintal saja. Bahkan kurang dari itu. Dan itu merata di daerah kami,” kata Zaenal Arifin saat dijumpai, Minggu (25/1).

Melihat hasil panen yang tidak menguntungkan tersebut, sebagian petani akhirnya mencoba beralih menanam palawija. Seperti halnya Zaenudin, 47, warga Tumbrep, Kecamatan Bandar, yang memanfaatkan sawahnya untuk menanam bengkoang. Dan sebagian petani lain pun melakukan hal yang sama, dengan menanam jagung, ketela, bahkan ubi. “Sebenarnya saya hanya mencoba saja, lebih menguntungkan mana bengkoang dengan padi. Sebab kalau padi, rawan sekali terserang hama tikus. Kalau sudah terserang, tak ada yang mau memanen,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BP2KP) Ripyono mengatakan pihaknya akan membagikan burung hantu jenis Tyto Alba ke 13 dari 15 Kecamatan di Batang. “Karena dua kecamatan masuk dalam kategori bebas hama tikus, yaitu Blado dan Bawang, maka burung tersebut akan kami sebar di 13 kecamatan, 23 desa dan 1 kelurahan, yaitu Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Batang,” jelasnya.

Berbeda halnya dengan yang dialami petani di Kecamatan Blado yang masuk dalam kategori daerah bebas hama tikus. Kendati demikian petani justru dihadapkan dengan permasalahan lain, hingga mereka pun beralih menanam palawija bahkan sebagian memanfaatkan sawahnya untuk menanam pohon sengon.

Bayan Mistari, 60, seorang pamong di Desa Wonobodro Kecamatan Blado mengatakan bahwa petani di daerahnya mengalami kesulitan dalam masalah perairan sawah. Sebab sumber mata air terbesar di daerahnya, yaitu Bismo digunakan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). “Padahal daerah kami lembab, tapi kalau untuk menanam padi susah. Sedangkan mata air Bismo yang merupakan mata air terbesar kami dialirkan ke kota oleh PDAM,” kata Bayan.

Akibat perairan susah, banyak yang beralih menanam pohon sengon. Namun ternyata sengon yang mereka tanam pun banyak yang gagal akibat terserang Karat Puru. Sehingga batang kayunya rusak. (mg12/ric)