UNIK : Atraksi egrang dari kelompok Hadrah Enggrang meramaikan Pawai Panjang Jimat yang digelar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. (Hanafi/radar semarang)
UNIK : Atraksi egrang dari kelompok Hadrah Enggrang meramaikan Pawai Panjang Jimat yang digelar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. (Hanafi/radar semarang)
UNIK : Atraksi egrang dari kelompok Hadrah Enggrang meramaikan Pawai Panjang Jimat yang digelar dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. (Hanafi/radar semarang)

PEKALONGAN – Sudah menjadi agenda rutin seperti tahun-tahun sebelumnya, Pawai Panjang Jimat masih menyedot perhatian ribuan masyarakat Pekalongan dan sekitarnya. Festival budaya dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1436 H tersebut cukup kental dengan membaurnya budaya yang ada di Kota Batik ini.

Dari pantauan Radar Semarang, tercatat budaya khas Jawa, Arab dan Tiongkok yang mewakili penduduk Pekalongan hadir dalam festival budaya yang diselenggarakan oleh Kanzus Sholawat dengan khodimul maulid Habib Luthfi bin Ali bin Yahya.

Nuansa yang cukup kental adalah batik dan segala ornamennya yang mewakili budaya Jawa. Musik hadrah dan marawis mewakili Arab dan kultur Islam yang kuat di Pekalongan. Kaum keturuan Tionghoa juga tidak kalah seru, selain menampilkan atraksi utama Barongsai juga menghadirkan musik khas Tiongkok.

Digelar pada Sabtu (24/1) sore, pawai tersebut menyedot perhatian ribuan warga Kota Pekalongan dan sekitarnya. Ribuan warga sejak tengah hari memadati sejumlah ruas jalan yang akan dilewati iring-iringan pawai. Start Pawai Panjang Jimat mulai pukul 14.00 dari Stadion Kota Batik Kota Pekalongan.

Beberapa kelompok peserta juga menampilkan kesenian tradisional, seperti marawis, musik tradisional Tiongkok dari Klenteng Po Atian, Barongsai dan yang unik atraksi egrang dari kelompok Hadrah Enggrang, serta berbagai atraksi menarik lainnya.

Khodimul Maulid, Habib Luthfi bin Ali bin Yahya menyampaikan, Pawai Panjang Jimat menunjukkan berbagai unsur dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), seni budaya, yang saling bersinergi, rukun, dan bertekad untuk terus mempertahankan keutuhan NKRI.

Habib Luthfi yang juga Rais Aam Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman) berharap, kegiatan Pawai Panjang Jimat ini jangan dilihat dari nilai efektifitasnya, akan tetapi jauh dari semuanya adalah kerukunan umat dan antar umat beragama dapat berjalan dengan baik.

Beberapa masyarakat yang datang juga cukup antusias. Salah satunya Suyadi, 34, warga Ponolawen, dirinya mengajak keluarga untuk menyaksikan pawai tersebut. “Senang, walaupun harus berdesak-desakan. Suguhannya juga bagus, dari atraksi drum band sampai barongsay anak saya suka semua,” tuturnya saat di temui di Jalan Pemuda. (han/ric)