JPO Tak Akomodasi Kaum Difabel

153

SELAIN dinilai kurang efektif, pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) di Kota Semarang juga kurang mengakomodasi kebutuhan para penyandang difabel. Sebab, rata-rata tangga JPO yang dibangun masih terlalu curam. Di samping itu, sejumlah JPO dibangun dengan mengorbankan area pedestrian bagi pejalan kaki.

Pakar Transportasi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Djoko Setiowarno mengatakan, konstruksi JPO di Kota Semarang masih sangat curam, sehingga tidak ideal jika dilewati oleh para penyandang difabel.

”Kecuramannya mencapai 45 derajat. Seharusnya dibuat lebih landai. Idealnya kemiringan tangga 20-30 derajat. Di Cina, JPO itu dalam satu tempat ada dua, yang satu curam, satunya lagi landai, sehingga masyarakat bisa memilih,” kata Djoko kepada Radar Semarang, Minggu (25/1).

Menurut Djoko, pembangunan JPO di Kota Semarang masih dibutuhkan. Namun tidak semua jalan protokol harus dibangun JPO. Melihat kondisi lalu lintas, volume kendaraan, serta laju kendaraan.

Diakui, pembangunan JPO di Kota Semarang rata-rata dilakukan oleh swasta, yang kompensasinya bisa memasang iklan di JPO. Sehingga hal-hal yang seharusnya diperhatikan dalam pembangunan JPO, seakan tidak diindahkan.

”Pembangunan JPO di Kota Semarang harus dilakukan audit ulang. Pembangunan satu JPO itu menelan dana hingga Rp 1 miliar. Itu sangat mencurigakan, kenapa sebanyak itu,” tanyanya

Djoko juga menyayangkan pembangunan JPO yang mengorbakan area pedestrian. Akibatnya, akses para pejalan kaki menjadi terhalang.

Pantauan Radar Semarang, JPO yang baru dibangun di Jalan Pandanaran ujung tangganya memakan trotoar. Sehingga pejalan kaki menjadi terhalang. (ewb/aro/ce1)