SEMARANG – Proyek pengembangan Wana Wisata Penggaron atau Jateng Park diketahui belum menjadi prioritas utama bagi pihak-pihak terkait. Padahal untuk merealisasikan rencana tersebut, dibutuhkan komitmen yang tinggi serta dukungan dari masing-masing pihak.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Jateng, Prasetyo Aribowo mengakui hal tersebut. Menurutnya, dalam merealisasikan proyek yang nantinya menjadi salah satu kebanggaan warga Jawa Tengah ini harus melibatkan masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha. Tanpa itu, hasilnya tidak akan pernah ada.

”Saya rasa mulai melihat arah yang jelas akan hal tersebut. Masing-masing pihak telah mulai menunjukkan komitmennya baik dari kemauan dan perencanaan. Terbukti tanggal 30 Januari nanti dilakukan penandatanganan MoU,” ungkapnya, kemarin.

Prasetyo menilai, pembangunan Jateng Park merupakan langkah investasi untuk mengembangkan potensi pariwisata di provinsi ini. Karenanya, harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu. Tidak hanya berbasis wisata alam, tetapi juga dilengkapi theme park sehingga mampu mengundang wisatawan asing. ”Misalnya ditambah wahana edukasi, permainan, dan tidak lupa dengan fasilitas MICE (meeting, incentive, conference, exhibition),” imbuhnya.

Ditambahkan, dari aspek pasar, potensi wisata di Jawa Tengah cukup tinggi. Jawa Tengah menempati nomor urut dua dalam hal kunjungan wisatawan domestik dengan jumlah 29,4 juta orang. Namun untuk wisatawan asing masih berkisar 481 ribu orang. ”Hal ini dikarenakan sebagian dari mereka tidak turun dari kapal karena melihat belum ada yang menarik di sini,” ujar Prasetyo.

Berkaca terhadap pembangunan taman wisata Jatim Park di Jawa Timur, Prasetyo mengaku optimististis Jateng Park juga dapat direalisasikan secara bertahap. Apalagi dengan sistem Kerja Sama Operasional (KSO) sebagaimana yang ditawarkan Perum Perhutani maka dapat dibagi kewenangannya. Misalnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang mengurusi perizinan, Pemprov menyediakan aksesibilitas, Pemkab menyediakan sumber daya dan pihak Perhutani sebagai pengelolanya.
”Berdasarkan perhitungan kami, awal 2016 nanti pembangunan fisik baru bisa dimulai. Untuk anggaran pihak Perhutani yang lebih tahu. Kita coba dulu, pasti bisa,” tandasnya.

Sebelumnya pembangunan Jateng Park dipastikan bakal molor dari waktu yang direncanakan. Hal ini disebabkan status kawasan yang masih belum jelas lantaran pihak Perhutani tidak mengizinkan untuk alih fungsi.

”Kemarin saya menghitungnya pertengahan 2015 sudah bisa dimulai (pembangunan) dengan asumsi status kawasan sudah clear. Kalau masalah kawasan tidak jadi clear, maka rencana itu jadi cut,” ungkap Sekda Jawa Tengah Sri Puryono.

Meski begitu, Sri mengaku tidak patah arang. Ia akan meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melakukan revisi atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 31 Tahun 2012 yang mengatur kawasan konservasi agar dapat dibangun Jateng Park di dalam areal hutan. ”Ini Peraturan Menteri, tinggal diubah saja,” imbuhnya optimistis. (fai/ric/ce1)