Gelar Diskusi hingga Aksi Peduli Lingkungan

133
PEDULI CAGAR BUDAYA: X-Rohis saat melakukan aktivitas bersih-bersih candi. (DOK. X ROHIS)
PEDULI CAGAR BUDAYA: X-Rohis saat melakukan aktivitas bersih-bersih candi. (DOK. X ROHIS)
PEDULI CAGAR BUDAYA: X-Rohis saat melakukan aktivitas bersih-bersih candi. (DOK. X ROHIS)

Sejumlah mahasiswa dan alumnus berbagai perguruan tinggi di Kota Semarang membentuk komunitas X-Rohis. Awalnya mereka kumpulan teman diskusi. Namun kini mereka juga peduli dengan lingkungan dan budaya.

EKO WAHYU BUDIYANTO

KOMUNITAS X-Rohis berdiri sejak 2003. Pendiriannya dimotori Saiful Ibad, alumnus jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Afiv Novianto, alumnus jurusan Seni Rupa Unnes. Keduanya membentuk perkumpulan diskusi kecil saat masih duduk di bangku kuliah. Saiful dan Afiv mengajak mahasiswa lain yang satu pemikiran. Meski saat itu komunitas ini tidak diakui oleh kampus, namun keduanya bertekad untuk tetap menghidupkan perkumpulan diskusi ini.

”Saat merintis, kami terkumpul teman sebanyak 15 orang. Setiap seminggu sekali kami mengagendakan diskusi bersama mengangkat tema-tema yang selalu berbeda,” ujar Saiful Ibad kepada Radar Semarang, Minggu (25/1).

Saiful lantas menamai perkumpulan diskusi tersebut komunitas X-Rohis. Sebab, ia dan beberapa anggota komunitas ini pernah berbeda pemikiran dengan salah satu organisasi kerohanian Islam (Rohis) di kampus tempatnya menimba ilmu.

Selain rutin melakukan diskusi, komunitas ini juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kebudayaan. Baik dilakukan sendiri, maupun menggandeng komunitas lain. Misalnya, bakti sosial di panti asuhan, membagikan makanan gratis kepada pengguna jalan, kegiatan outbond bersama anak-anak yatim, serta memberikan edukasi kepada siswa tentang dunia reptil dengan menggandeng komunitas pencinta reptil Unnes (Urea). ”Kami juga pernah menggelar aksi bersih-bersih gunung, bersih-bersih candi, dan kegiatan budaya dolanan lombok,” jelasnya.

Dikatakan, dolanan lombok merupakan kegiatan berkeliling Kelurahan Sekaran dengan menenteng replika lombok besar, dan para anggota komunitas ini berdandan sesuai dengan apa yang ada di pikiran mereka sambil membagi-bagikan lombok (cabai) yang sebelumnya mereka beli dari warung.

”Dolanan lombok itu sebenarnya menggunakan konsep asal-asalan. Sebelum melakukan aksi, kita membeli lombok di warung kelontong sebanyak 10 kg. Setelah itu, kita membagikan ke warga yang kita lintasi. Pada saat itu memang harga lombok sangat mahal. Kami ingin menyampaikan, meski harga mahal, namun budaya masyarakat Jateng yang cenderung memiliki rasa pedas jangan sampai hilang,” beber Afiv.

Dari kegiatan-kegiatan tersebut menarik perhatian tidak hanya mahasiswa Unnes, namun juga mahasiswa universitas lain serta masyarakat umum. Salah satunya Heri Suprapto, yang sehari-hari bekerja menjadi satpam.

Ia mengaku tertarik bergabung dengan komunitas ini dikarenakan banyaknya aktivitas sosial yang menurutnya sangat menginspiratif. ”Saya aktif dengan komunitas X-Rohis sejak 2006. Awalnya tidak sengaja saat saya diajak mendaki gunung, saya melihat beberapa pemuda yang sedang membersihkan sampah di gunung, dari situ saya mulai tertarik dengan komunitas ini,” ujar Heri.

Kini, jumlah anggota komunitas X-Rohis sekitar 50 orang. Meski anggota lama sudah lulus dari kampus, namun eksistensi mereka tetap berjalan. Setiap dua minggu sekali, anggota X-Rohis menyempatkan waktunya untuk sekadar kumpul-kumpul dan melakukan diskusi kecil. Banyak juga mahasiswa baru Unnes yang bergabung. (*/aro/ce1)