DPRD Temukan Raskin Buruk

164
SIDAK : ‎Komisi IV DPRD Kabupaten Magelang menemukan kualitas raskin yang buruk di Gudang Bulog Subdrive V. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
SIDAK : ‎Komisi IV DPRD Kabupaten Magelang menemukan kualitas raskin yang buruk di Gudang Bulog Subdrive V. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
SIDAK : ‎Komisi IV DPRD Kabupaten Magelang menemukan kualitas raskin yang buruk di Gudang Bulog Subdrive V. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

MUNGKID– Kualitas beras untuk masyarakat miskin (raskin) di Gudang Bulog Subdrive V Mertoyudan Kabupaten Magelang dinilai buruk. Hal itu mendasari temuan Komisi IV DPRD setempat di gudang penyimpanan beras itu.

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Magelang M Adib mengatakan kualitas raskin dinilai tak sesuai spesifikasi yang tertuang dalam Inpres Nomor 3 Tahun 2012 tentang Kebijakan Pengadaan Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah. Hal itu dikarenakan banyaknya menir dan beras patah.

“Dalam inpres butiran patah tidak boleh lebih dari 20 persen. Tapi di lapangan kami menemukan hampir mayoritas beras patah,” kata Adib, akhir pekan lalu.

Tidak hanya itu, Arif Rohman Imam, anggota Komisi IV lainnya mengatakan warna beras juga terlihat kusam. “Baunya juga tidak sedap,” jelas dia.

Pengecekan yang dilakukan Komisi IV sendiri dilakukan dengan mengambil sample di beberapa titik penyimpanan beras. Baik yang ada di tumpukan paling atas tengah dan bawah. “Hampir sama semua kualitasnya. Tidak layak,” kata Suyanti, anggota DPRD lainnya.

Buruknya kualitas raskin ini, kata dia, kerap membuat warga penerima manfaat enggan mengonsumsinya. Dia beberapa kali menemukan warga menjual kembali raskin tersebut. “Banyak yang dijual lagi, tapi di daerah saya banyak pedagang yang tidak mau menerima raskin karena tidak laku dijual,” tambahnya.

Isti Wahyuni anggota Komisi IV menambahkan sesuai Inpres Nomor 3 Tahun 2012, beras raskin harus memiliki spesifikasi antara lain, kadar air maksimum 14 persen. Butir patahan tidak boleh lebih dari 20 perse. Juga derajat sosoh minimum 95 persen. “Dari temuan di gudang Bulog tadi hampir tak sesuai inpres,” jelas dia.

Kepala Bulog Subdrive V Kedu Fansuri Perbatasari mengatakan inpres ditetapkan saat Bulog melakukan pengadaan ke petani. Bukan saat dikirimkan ke masyarakat penerima manfaat.

“Kalau saat pengadaan dari rekanan harus sesuai inpres. Tapi karena disimpan terlalu lama di gudang kemudian muncul kerusakan termasuk butirannya patah,” kata dia.

Menurutnya, penyimpanan beras raskin bisa mencapai lima bulan. Bahkan lebih. Sehingga wajar jika terjadi perubahan kondisi beras. Dia mengatakan buruknya kualitas raskin hanya sebagian kecil saja. “Biasanya yang lolos dari pengecekan. Karena selama ini kita hanya mengambil sampel sebanyak 5 persen untuk dicek,” kata dia. (vie/lis)