70 Persen Kebutuhan Susu Masih Impor

98

SEMARANG – Kebutuhan susu di Jawa Tengah diketahui cukup tinggi. Yaitu mencapai 100 ribu ton per tahunnya. Namun, dari jumlah tersebut hanya 30-40 persen saja yang dapat disediakan peternak lokal. Sementara sisanya masih menggantungkan pada susu impor dari negara lain.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jawa Tengah Whitono menjelaskan, kebutuhan paling banyak berasal dari industri pengolahan susu (IPS). Sebab, sebagian besar masyarakat saat ini lebih memilih mengonsumsi susu bubuk daripada susu murni. ”Hal ini berbeda dengan yang ada di luar negeri. Mereka lebih memilih susu murni karena memiliki fasilitas untuk menjadikan tahan lama dan tidak mudah rusak,” terangnya.

Dalam hal penyerapan, lanjut Whitono, tergantung pada kualitas susu yang ada. Dalam hal ini IPS berhak menentukan standar sendiri kualitas susu yang mereka inginkan. Misalnya batas kandungan bakteri dan kandungan lemak yang masing-masing IPS berlainan. ”Ini yang kadang menjadi hambatan bagi peternak lokal untuk menjual produknya,” imbuhnya.

Di samping kemampuan peternak yang masih sangat terbatas dalam menghasilkan susu segar yang bagus, kualitas susu yang dihasilkan seringkali juga tidak sesuai dengan standardisasi yang ditentukan oleh perusahaan. ”Jika yang terjadi demikian, tentu produksi mereka kalah dari produk susu impor,” imbuh Whitono. Menurut dia, permasalahan yang sama juga terjadi secara nasional.

Meski begitu, dia mengaku tidak patah arang. Ia berjanji akan terus melakukan penyuluhan, pelatihan dan pendidikan bagi para peternak sehingga mampu memproduksi susu dengan kualitas tinggi. ”Tingkat pendidikan peternak yang bervariasi menjadi kendala tersendiri. Justru itu menjadi tantangan kami,” akunya.

Dia menambahkan, pihaknya juga memiliki kebijakan melarang sapi impor masuk ke Jawa Tengah. Dengan kebijakan ini diharapkan dapat melindungi peternak lokal dari gempuran sapi dari luar negeri. ”Data sementara populasi sapi di Jawa Tengah mencapai 1,6 juta ekor,” bebernya. (fai/ric/ce1)