Tak Ada Dukungan Pemerintah, Maret Bakal Ditutup

170
BERTAHAN: General Manager Duniaku Pintar Dolly Andrian Firmandjaja memperagakan penciptaan api dari tepung jagung. (DOK. PRIBADI)
BERTAHAN: General Manager Duniaku Pintar Dolly Andrian Firmandjaja memperagakan penciptaan api dari tepung jagung. (DOK. PRIBADI)
BERTAHAN: General Manager Duniaku Pintar Dolly Andrian Firmandjaja memperagakan penciptaan api dari tepung jagung. (DOK. PRIBADI)

Sudah tiga tahun, Dolly Andrian Firmandjaja mengelola wahana ilmu pengetahuan dan belajar ”Duniaku Pintar.” Sudah banyak siswa lulusan lembaga ini yang menjuarai lomba sains dan iptek. Namun dua bulan lagi, lembaga ini bakal ditutup. Kenapa?

AHMAD FAISHOL, Ngesrep

JIKA mendengar prestasi putra semata wayang Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Muhammad Zinedine Alam Ganjar yang berhasil meraih medali emas dalam the 6th ASEAN+3 Teacher Workshop & Student Science Camp, di Changwon City Republic of Korea beberapa waktu lalu, tentu tidak lepas dari peran Duniaku Pintar.

Ya, wahana ilmu pengetahuan dan belajar yang berlokasi di kompleks PRPP Semarang inilah yang mendampingi dan mengantarkan Muhammad Zinedine serta keempat temannya memborong medali dalam kejuaraan sains tingkat internasional tersebut. Namun prestasi itu rupanya akan menjadi prestasi terakhir yang dipersembahkan oleh Duniaku Pintar. Sebab, pada Maret mendatang, lembaga non pemerintah ini bakal ditutup.

Penutupan tersebut salah satunya karena minimnya dukungan dari pemerintah setempat maupun instansi terkait selama ini terhadap kegiatan-kegiatan produktif pengembangan potensi siswa yang dilakukan Duniaku Pintar.

Ditemui di rumahnya di Jalan Jatingaleh I No 46 Semarang, General Manager Duniaku Pintar Dolly Andrian Firmandjaja menceritakan, lembaga yang dipimpinnya tersebut didirikan pada 1 Februari 2012 lalu. Namun jauh sebelum itu, ia telah melakukan kegiatan yang sama sejak 2009. Tujuan awal didirikan lembaga ini adalah untuk memfasilitasi siswa sekolah dan masyarakat umum agar lebih mudah mempelajari dan memahami aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dalam kehidupan sehari-hari.

”Dalam perkembangannya keadaan menjadi semakin buruk. Hampir dipastikan setiap menggelar kegiatan, harus ada subsidi dari dana pribadi. Bisa dikatakan selalu minus,” ungkap Dolly kepada Radar Semarang, kemarin.

Meski begitu, Dolly mengaku tidak patah semangat. Ia terus berusaha mencari sumber pendanaan lain dari donatur, dan berbagai pihak untuk terus melanjutkan kegiatan tersebut. Ia ingin mewujudkan sebuah lembaga yang mampu mencetak generasi pintar seperti Taman Pintar Jogjakarta dan Pusat Peragaan Iptek (PP-IPTEK) Jakarta.

”Harapannya, lembaga ini diambil alih oleh pemerintah agar lebih berkembang dan lebih maju,” harap pria yang juga menjadi PKL di Simpang Lima ini.

Dolly menceritakan, dalam perjalannya Duniaku Pintar selalu mengirimkan siswanya untuk mengikuti berbagai lomba. Mulai tingkat nasional hingga internasional. Setiap mengikuti lomba, selalu mendapatkan medali. Bahkan tidak jarang satu anak mendapatkan dua medali. ”Sebab, kami tahu persis bagaimana menyiapkan anak-anak untuk memenangkan sebuah perlombaan. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui, dan butuh waktu yang lama,” kata pria kelahiran Magelang 43 tahun silam ini.

Alumnnus SMA Negeri 5 Semarang ini menceritakan, sewaktu anak Gubernur Ganjar berangkat ke Korea beberapa waktu lalu, tidak pernah lepas dengan latihan. Dibutuhkan waktu 1,5 bulan untuk mempersiapkannya. Bahkan tiga jam sebelum naik pesawat, masih diminta presentasi juga.

”Kami selalu ajarkan kepada anak untuk berjuang keras dahulu sebelum merasakan nikmatnya hasil yang didapatkan,” ungkap Dolly mengaku pernah menyapu bersih perlombaan dengan 8 emas, 5 perak, dan 4 perunggu saat Indonesia menjadi tuan rumah pada tahun 2012 ini.

Dolly tidak menampik jika mendapat tempat di PRPP secara gratis, namun dalam hal pembiayaan hampir 90 persen dari biaya sendiri, dan 10 persen dari donatur.

”Saya habis jual rumah di Jakarta, dan satu mobil untuk mengelola lembaga ini,” aku Dolly yang mengaku saat ini jumlah karyawannya tinggal 3 dari sebelumnya 15 orang.

Dolly berharap, dengan semua prestasi membanggakan yang berhasil diperoleh para siswa berbakat Jateng selama ini, Pemprov Jateng bisa lebih memperhatikan dan memberikan dukungan nyata bagi setiap inisiasi dan inisiatif swasta yang bertujuan konstruktif untuk mencetak generasi muda yang berbakat dan berpotensi, yang kelak akan menjadi pilar pembangunan negara dan bangsa.

”Salah satu yang menjadi problem anak-anak Indonesia saat ini adalah mereka selalu diperhitungkan di negara lain, tetapi tidak dihargai di negeri sendiri,” katanya. (*/aro/ce1)