PROTES : Warga saat berdemo menuntut nama Landungsari tetap dipakai menjadi nama kelurahan kemarin. (Hanafi/radar semarang)
PROTES : Warga saat berdemo menuntut nama Landungsari tetap dipakai menjadi nama kelurahan kemarin. (Hanafi/radar semarang)
PROTES : Warga saat berdemo menuntut nama Landungsari tetap dipakai menjadi nama kelurahan kemarin. (Hanafi/radar semarang)

PEKALONGAN – Pemkot Pekalongan akhirnya setuju nama Landungsari tetap digunakan dalam nomenklatur perubahan atau merger Kelurahan. Keputusan tersebut diambil saat mediasi dengan warga eks Kelurahan Landungsari di Balaikota kemarin.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Kota Pekalongan, Drs Slamet Prihartono MM yang menemui perwakilan warga menegaskan Pemkot menerima usulan warga atas nomenklatur tersebut. “Pada dasarnya Pak Wali setuju pengembalian nama Landungsari. Sehingga jika nama ini dirubah, pasti akan dibuat perda baru. Namun tetap butuh proses,” ucap dia.

“Perubahan nama baru, kami harap diajukan tertulis. Dikoordinatori dengan Lurah, disepakati namanya apa dengan ditandatangi tokoh masyarakat Noyotaan dan Landungsari, sehingga utuh tidak berubah lagi,” lanjut dia.

Setelah itu, Pemkot akan segera mengajukan Perda lagi ke DPRD setelah disahkan, dilanjut diajukan ke Mendagri. “Kami juga tidak bisa menjamin segera selesai. Karena diawali dengan Raperda, kita tidak bisa mempercepat, tapi akan kita prioritaskan. Karena melibatkaan lembaga lain, yaitu DPRD,” tandasnya.

Diwakili beberapa tokoh saat mediasi, termasuk ulama sesepuh Landungsari
Mbah Kyai Dimyati Ali dan Ustadz Hasan, hadir pula Kabag Ops Polres Pekalongan Kota Kompol Hartono.
Diungkapkan, Kyai Dimyati pihaknya tetap ingin nama Landungsari utuh. “Kami ingin dapat berkah dari para ulama. Terutama Mbah Landung, dan Mbah Asyari. Mereka ulama yang ada di tempat kami, yang menjadi cikal bakal nama Landungsari,” ungkapnya.

Ustadz Hasan menambahkan, pihaknya tidak menolak dua desa digabung. “Yang kami harapkan cuma nama Landungsari tetap utuh saja,” tegas dia.

Ribut Achwandi menambahkan penggantian nama ini sangat menyakitkan warga. “Ini masalah historis dan budaya, jadi harus tetap kami pertahankan. Jika Pemkot tidak segera memenuhi permintaan kami, ke depan akan kami bawa massa lebih banyak,” tegas dia.

Demo warga kemarin dimulai pukul 08.00. Mereka berkumpul di pertigaan Pasar Grogolan. Massa dari warga eks Landungsari sekitar 250 orang kemudian long march menuju Pemkot lewat pantura. Selama perjalanan menuju Pemkot, pantura sepanjang jalan Jenderal Sudirman Kota Pekalongan menjadi macet.

Selama perjalanan massa terus orasi dan bershalawat diriingi rebana dan perkusi. Sampai di depan pintu Balaikota massa langsung berorasi menuntut pengembalian nama Landungsari. Alasaan mereka tetap sama, bahwa desa mereka penuh dengan sejarah penting. “Kami tidak rela Landungsari dirubah namanya. Kamu akan terus menggelar aksi sampai tuntutan kami dipenuhi,” ucap Sulaiman. (han/ric)