Lahan Jateng Park Belum Clear

154
Sri puryono. (Dok/RASE)
Sri puryono. (Dok/RASE)
Sri puryono. (Dok/RASE)

SEMARANG – Proyek pengembangan Wana Wisata Penggaron Provinsi Jawa Tengah atau yang akrab disebut Jateng Park dipastikan bakal molor dari waktu yang direncanakan. Hal ini disebabkan status kawasan yang masih belum jelas lantaran pihak Perhutani tidak mengizinkan untuk alih fungsi.

”Kemarin saya menghitungnya pertengahan 2015 sudah bisa dimulai (pembangunan) dengan asumsi status kawasan sudah clear. Kalau masalah kawasan tidak jadi clear, maka rencana itu jadi cut,” ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah Sri Puryono di kompleks Gubernuran, Jumat (23/1).

Meski begitu, Sri mengaku tidak patah arang. Ia akan meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melakukan revisi atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 31 Tahun 2012 yang mengatur kawasan konservasi agar dapat dibangun Jateng Park di dalam areal hutan. ”Ini Peraturan Menteri, tinggal diubah saja,” imbuhnya optimistis.

Sri menegaskan, jika sistem Kerja Sama Operasional (KSO) sebagaimana yang ditawarkan Perum Perhutani dipakai, maka akan menjadikan para investor merasa keberatan. Sebab, kawasan menjadi tidak dapat dimanfaatkan sepenuhnya. Padahal, menurut Sri, telah ada beberapa investor yang menyatakan tertarik untuk mengembangkannya. ”Ada dari Tiongkok, Korea, dan juga Indonesia sendiri yaitu dari Grup Panin Bank,” terangnya.

Ditambahkan, dalam hal pendanaan sepenuhnya dibebankan kepada investor. Adapun pemprov dan pemkab hanya bersifat pendampingan. Misalnya untuk pengurusan amdal dan lain sebagainya. ”Tanggal 30 Januari 2015 nanti saya sendiri juga ikut dalam rapat di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta,” imbuhnya.

Disinggung tudingan dari kalangan anggota legislatif yang merasa tidak dilibatkan dalam rencana pembangunan Jateng Park tersebut, Sri dengan tegas membantahnya. Menurut Sri, pihaknya terus melakukan komunikasi dari awal hingga saat ini. ”Jika ada anggota dari Komisi B yang ngomong seperti itu, mereka tidak belajar dari sejarah,” pungkasnya.

Seperti diketahui, berdasarkan hasil dari focus group discussion (FGD) yang digelar di gedung Rimba Graha kompleks Perhutani Semarang, Kamis (22/1) lalu disepakati beberapa hal.

Di antaranya kesepakatan dari lembaga eksekutif, legislatif dan stakeholder terkait untuk memiliki komitmen yang tinggi terhadap rencana pengembangan Wana Wisata Penggaron. Selain itu, pihak Perhutani bersama dengan pihak terkait sepakat akan memasukkan Wana Wisata Penggaron menjadi prioritas setelah tersusun masterplan dan feasibility study.

Kesepakatan lain, agar segera ditindaklanjuti dengan perjanjian kerja sama agar lebih jelas hak dan kewajiban masing-masing pihak. Juga agar segera disusun tahapan pengembangan Wana Wisata Penggaron. Pembangunan fisik akan dilakukan pada 2016 setelah kajian amdal selesai. (fai/ric/ce1)