Pandai Membuat Cat Hingga Springbed Berkualitas

200
TELATEN : Kapten Inf Tukul menunjukkan jas hujan hasil kreasinya dalam pelatihan kemarin. (Sumali ibnu chamid/radar kedu)
TELATEN : Kapten Inf Tukul menunjukkan jas hujan hasil kreasinya dalam pelatihan kemarin. (Sumali ibnu chamid/radar kedu)
TELATEN : Kapten Inf Tukul menunjukkan jas hujan hasil kreasinya dalam pelatihan kemarin. (Sumali ibnu chamid/radar kedu)

Menjadi anggota TNI sudah jadi pilihan hidup Kapten Infanteri Tukul yang saat ini menjabat sebagai Danramil Mojotengah, Wonosobo. Di sela menjalankan tugas negara, ia kerap menjadi mentor pelatihan industri kreatif. Seperti apa?

SUMALI IBNU CHAMID, Wonosobo

Komandan Rayon Militer (Danramil) Mojotengah, Kapten Inf Tukul dikenal luas merupakan tentara tegas dan supel. Dalam banyak momentum terutama saat terjadi bencana, pria ini kerap hadir menjalankan tugas sebagai personel TNI. Selain sebagai TNI yang rajin, Tukul juga kerap muncul dalam berbagai pelatihan keterampilan. Di antaranya melatih mahasiswa, kaum difabel serta narapidana di Rutan Wonosobo.

Tukul tergolong anggota TNI kreatif. Terbukti dari tangan dinginnya melahirkan banyak karya seni kriya. Di antaranya springbed berkualitas, cat tembok, mengolah kawat galvanis untuk dijadikan hunger penggantung pakaian tahan karat. Menariknya, keterampilan itu, tidak dinikmati sendiri. Namun ilmu itu dibagikan kepada yang berminat.

Hasil karya paling baru, berupa pembuatan mantel. Tukul menilai, Wonosobo yang tergolong daerah curah hujan tinggi, potensial mengembangkan bisnis pembuatan mantel. Berawal dari situ, kain perlak yang biasanya hanya digunakan sebagai alas tidur bayi itu disulap menjadi 2 jenis barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Selain jas hujan, kain perlak juga digunakan untuk membungkus spons seukuran tempat tidur. Kedua barang tersebut kini juga mulai laku di pasaran.

“Beragam jenis hasil karya telah dipasarkan dan mampu memberi tambahan penghasilan yang cukup lumayan,”kata Tukul saat mengisi pelatihan keterampilan bagi kaum difabel Wonosobo, kemarin (22/1) di aula kantor Dinsos.

Tukul mengaku, sebagaimana halnya hasil olahan dan karya lainnya, yang oleh Kapten Tukul juga ditularkan cara pembuatannya kepada orang lain, teknik pembuatan jas hujan maupun kasur berbungkus kain perlak itupun diajarkannya pada sesama.

“Berbagi ilmu dengan sesama melebihi nilai uang dari hasil menjual hasil karya saya,” ujarnya.
Karena itu, Tukul mengaku ketika diminta hadir oleh Dinas Sosial untuk berbagi ilmu, mengaku sangat senang. Dia tak sungkan bercerita ihwal mula ketertarikannya mengolah beragam benda untuk dijadikan karya-karya bernilai ekonomi tinggi.

“Selain mampu menopang kebutuhan keluarga, hasil-hasil karya juga menjadi media mengekspresikan kemampuan saya, sehingga ketika mampu menghasilkan sebuah benda, saya merasakan kepuasan,” paparnya.

Untuk itu, Tukul mendorong kepada para difabel untuk tidak berhenti mencoba dan tak perlu takut gagal. Semangat itulah yang hendak ditransfer kepada setiap anak didiknya, termasuk para difabel.

“Para difabel juga memiliki potensi yang cukup bagus bila dibina dengan baik dan serius,” ungkapnya.
Karena itu, pihaknya meminta kepada para peserta pelatihan, agar tak segan menghubunginya kapan saja bila memang memerlukan pelatihan keterampilan.
“Asal saya sedang tidak jam dinas aktif, saya siap sedia kapan pun dipanggil untuk berbagi ilmu,” pungkasnya. (*/lis)