Jateng Park Harus Unik

189
BAKAL MOLOR: Sejumlah pihak terkait sedang merumuskan konsep pengembangan Wana Wisata Penggaron yang rencananya akan dimulai paling cepat pada Januari 2016. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
BAKAL MOLOR: Sejumlah pihak terkait sedang merumuskan konsep pengembangan Wana Wisata Penggaron yang rencananya akan dimulai paling cepat pada Januari 2016. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)
BAKAL MOLOR: Sejumlah pihak terkait sedang merumuskan konsep pengembangan Wana Wisata Penggaron yang rencananya akan dimulai paling cepat pada Januari 2016. (AHMAD FAISHOL/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Proyek pengembangan Wana Wisata Penggaron Provinsi Jawa Tengah atau yang akrab disebut Jateng Park harus benar-benar dikonsep dengan baik. Yaitu harus memiliki keunikan tersendiri yang membedakan dengan apa yang ada di daerah-daerah lain. Sebab, dari keunikan itulah yang akan menarik para investor untuk ikut ambil bagian dalam proyek tersebut.

Hal itu diungkapkan Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P2PAR) Institut Teknologi Bandung (ITB), Budi Faisal dalam acara focus group discussion (FGD) tentang rencana pengembangan Wana Wisata Penggaron yang digelar di gedung Rimba Graha kompleks Perhutani Semarang, Kamis (22/1).

Budi menjelaskan, saat ini telah banyak tempat-tempat wisata yang menyediakan konsep taman safari. Misalnya ada Jatim Park di Jawa Timur dan Jungle Land di Jawa Barat. Bila ingin diminati investor dan tentunya menarik banyak pengunjung, pengembangannya harus ditambah dengan danau, outbound, taman safari, dan sebagainya.

”Yang tak kalah penting, adalah menggaungkan budaya dan kearifan lokal, mengembangkan pariwisata berbasis konservasi dan leisure, dan harus berlevel internasional,” beber pria yang didaulat menjadi konsultan proyek tersebut.

Ditambahkan Budi, pengembangan Wana Wisata Penggaron dengan luas 500 hektare tersebut tentu membutuhkan investasi yang besar. Ia mencontohkan, luas wilayah taman wisata Jatim Park hanya sekitar 25 hektare. Sementara taman wisata Jungle Land hanya sekitar 35 hektare. ”Kalau Jateng Park tidak menawarkan hal yang unik dan menarik, mana ada investor yang berminat,” ujar Budi setengah bertanya.

Budi menegaskan, pengembangan wisata di lokasi tersebut cukup strategis. Selain berdekatan dengan jalan tol, potensi alamnya juga baik. Daerah tersebut juga menjadi jalur migrasi burung, di mana flora dan faunanya juga masih banyak. ”Jika tidak bisa langsung dikerjakan semuanya, maka dapat dilakukan secara bertahap. Sedikit demi sedikit asalkan terealisasi,” terangnya.

Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bambang Supriyanto menambahkan, kendala pengembangan Wana Wisata Penggaron adalah status kawasan di mana hutan produksi terbatas untuk tujuan wisata. ”Kawasan itu tidak bisa digunakan untuk pinjam pakai atau alih fungsi, kecuali jika peraturannya direvisi,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, langkah satu-satunya yang dapat dilakukan adalah dengan cara kerja sama operasional (KSO). Operasionalnya tetap pada Perhutani dan perizinannya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. “Adapun pembiayaannya dapat dicarikan dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, atau investor,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Jawa Tengah, Rukma Setyabudi yang juga hadir dalam kesempatan tersebut mengatakan, pengembangan wisata seluas 500 hektare itu merupakan pekerjaan besar. Kalau tidak bisa langsung dikerjakan dengan luas yang ada, dapat dikerjakan sesuai dengan kemampuan keuangan yang dimiliki. ”Kalau ini dikerjakan bersama-sama pasti bisa. Kami siap membantu dalam hal penganggaran jika memang visible,” terang politikus PDIP itu. (fai/ric/ce1)