Serang Usia Produktif

174

RANDUSARI – Kasus HIV AIDS di Kota Semarang masih tergolong tinggi. Ironisnya lagi, dari hasil survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, penyakit mematikan itu menyerang warga usia produktif, mulai dari usia 15 hingga 25 tahun.

”Penularannya melalui berbagai macam, yang paling banyak yaitu melalui heteroseks serta jarum suntik. Catatan DKK tahun 2014 saja sebanyak 150 orang terinveksi HIV AIDS melalui jarum suntik narkoba,” ujar Kepala DKK Semarang Widoyono, Rabu (21/1).

Sementara itu, penularan penyakit HIV AIDS di Kota Semarang melalui ibu-ibu hamil masuk kategori rendah. Sebanyak 20 orang pada tahun 2014 penularan HIV AIDS melalui ibu hamil. Menurut Widiyono, berbagai faktor memengaruhi terjadinya kasus tersebut, antara lain minimnya edukasi tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja.

”Seharusnya sosialisasi pentingnya kesehatan reproduksi dilakukan sejak dini. Yaitu dengan menerapkan pendidikan kesehatan reproduksi dalam kurikulum sekolah. Selama ini khususnya di Kota Semarang belum juga dilakukan,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Widoyono, pendidikan dan kesehatan reproduksi remaja cenderung hanya diserahkan kepada orang tua dan sekolah. Sedangkan kurikulum mengenai kesehatan reproduksi remaja belum masuk secara tepat. ”Padahal kita menginginkan hal tersebut masuk ke dalam pendidikan dengan porsi besar. DKK juga menganggarkan untuk pembuatan posko tentang terjadinya kekerasan seksual, KDRT, namun hingga kini yang lapor masih sedikit. Mereka lebih terbuka terhadap LSM dan yang lain,” tuturnya.

Direktur Eksekutif PKBI Jateng, Elisabeth Setia Asih Widiyastuti mengatakan, masa transisi, merupakan masa di mana permasalahan kesehatan reproduksi banyak dialami. Menurut catatan PKBI untuk wilayah Kota Semarang hingga mencapai 35 persen. ”Kami memang mendorong pemerintah agar memiliki kebijakan agar di sekolah diberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi, entah itu berbentuk perda, sehingga sekolah-sekolah pun dapat melakukannya dengan senang hati tidak setengah-setengah,” pungkasnya. (ewb/zal/ce1)