GANTI : Kepala unit Borobudur Krisna Mukti (kanan) bersama Bambang Irianto yang digantikannya, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
GANTI : Kepala unit Borobudur Krisna Mukti (kanan) bersama Bambang Irianto yang digantikannya, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
GANTI : Kepala unit Borobudur Krisna Mukti (kanan) bersama Bambang Irianto yang digantikannya, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

MUNGKID— Tampuk kepemimpinan unit Borobudur PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWCB PRB) berganti. Bambang Irianto digantikan oleh Krisna Mukti yang sebelumnya menjabat sebagai kepala unit teater dan pentas.

”Unit Borobudur merupakan bagian terbesar yang kami miliki. Sehingga tantangan ke depan juga cukup besar,” kata Direktur Utama PT TWCB PRB Laily Prihantingtyas di sela-sela pisah sambut kepala unit Borobudur di Hotel Manohara, Rabu (21/1).

Salah satu tugas berat yang harus segera diselesaikan adalah terkait penataan pedagang sentra kerajinan dan makanan yang jadi korban kebakaran. Saat ini perusahaan plat merah tersebut belum menemukan titik temu dengan pedagang.

Dia mengatakan, sampai saat ini masih belum ada kesepakatan antara pedagang yang berjualan di zona I Candi Borobudur dan korban kebakaran dalam menempati pasar penampungan. Meskipun sudah dilakukan negosiasi, koordinasi dengan pemangku kepentingan, dan pembuatan tempat penampungan sementara. “Belum ada kesepakatan, masih terus kami komunikasikan. Dalam hal ini, kami tidak bisa melakukan pendekatan secara represif karena bagaimanapun, para pedagang adalah warga sekitar sehingga jangan sampai nantinya ada permasalahan ke depan,” terangnya.

Tahun ini, dia menargetkan sudah tidak ada lagi tenda- tenda pedagang yang berjualan di sepanjang jalan keluar dari zona I candi. Selain itu, juga pembangunan kembali lokasi pedagang yang tepat sasaran. “Sesuai peraturan Kawasan Strategis Nasional (KSN), hanya bisa dibangun pasar yang sifatnya kontemporer. Tidak boleh ada lagi tempat perdagangan yang sifatnya masif seperti itu,” katanya.

Sebelumnya, rencana ujicoba penempatan para pedagang korban kebakaran Sentra Kerajinan dan Makanan Borobudur (SKMB) ke pasar penampungan sementara (relokasi), 24 Desember 2014 lalu urung dilaksanakan. Sejumlah pedagang menolak rencana tersebut sebelum permasalahan pembagian tempat selesai.

Slamet, salah satu pedagang mengungkapkan, pemindahan pedagang juga tidak tepat waktu. Selain itu, masih belum ada kesepakatan antara pedagang zona I, pedagang korban kebakaran, dan pihak PT TWCBPRB. “Karenanya, kami belum mau menempati pasar relokasi,” kata Slamet.

Seperti yang diketahui, untuk melakukan penataan yang bersifat sementara ini PT TWCBPRB mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,3 miliar. Lokasi pasar penampungan sementara berada di belakang museum Karmawibangga. (vie/ton)