TAK ADA REGENERASI: Judoka Kresna Bayu, saat ini telah pensiun dari matras judo. Selama ini dia selalu menjadi penyumbang medali emas bagi Jateng dan PON ke PON. (DOK/RASE)
TAK ADA REGENERASI: Judoka Kresna Bayu, saat ini telah pensiun dari matras judo. Selama ini dia selalu menjadi penyumbang medali emas bagi Jateng dan PON ke PON. (DOK/RASE)
TAK ADA REGENERASI: Judoka Kresna Bayu, saat ini telah pensiun dari matras judo. Selama ini dia selalu menjadi penyumbang medali emas bagi Jateng dan PON ke PON. (DOK/RASE)

Pengprov Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Jawa Tengah layak iri dengan cabor-cabor lain seperti taekwondo, karate atau tinju yang mendapat fasilitas representatif dari KONI Jateng berupa tempat berlatih. Ketiga cabor tersebut kini mempunyai gedung tempat menempa atlet yang sangat memadai di kompleks GOR Jatidiri Semarang.

SEMENTARA atlet judo untuk berlatih harus menumpang dari satu gedung ke gedung lain. Kondisi ini membuat prestasi para judoka Jateng sangat diragukan di PON 2016 mendatang di Jawa Barat.

“Kita memang tidak punya dojo (tempat berlatih judo). Selama ini para atlet berlatih secara desentralisasi di daerah masing-masing. Untuk yang berstatus pelajar berlatih di PPLP, lalu yang berprestasi bagus bisa berlatih di pelatnas,” ujar Suryo Agung Nusantara, Ketua Harian Pengprov PJSI Jateng, kemarin.

Pria yang disapa Agung ini mengakui, sulit bagi para judoka Jateng untuk bisa bersaing di PON 2016 mendatang. Padahal, judo termasuk salah satu cabang olahraga yang ‘gemuk’ medali di PON 2016 tersebut. Bila di PON 2012/Riau lalu hanya 18 medali emas yang diperebutkan, maka di PON 2016/Jabar akan bertambah menjadi 22 medali emas. Tambahan nomor yakni kelas bebas putra-putri serta nomor beregu putra-putri.

Agung mengatakan, saat ini PJSI Jateng hanya punya dua atlet yang punya prestasi level nasional. Keduanya adalah judoka putri Desi Yudianti (-78 kg) asal Wonogiri yang saat ini tercatat masuk dalam rangking satu nasional di kelasnya serta Kristian Hadi Sumarsono (-66 kg) dari Kota Semarang di bagian putra yang tercatat sebagai rangking tiga nasional di kelasnya. “Ya, memang hanya dua atlet itu yang bisa kita harapkan meraih medali emas. Yang lain bahkan masih harus berjuang untuk bisa lolos bertanding di PON 2016,” tuturnya.

Untuk Desi, kans-nya besar karena saingan utama di kelasnya yakni Maya (Jabar) yang mengalahkannya di semi final PON 2012 lalu saat ini telah pensiun. Sementara Kristian, diakui masih berat peluangnya meraih emas. “Di kelas Kristian ada Syaiful dari DKI Jakarta. Selama ini Kristian sulit mengalahkannya. Tapi semoga saja di sisa waktu sebelum PON 2016, Kristian bisa mengejar ketertinggalannya,” tambah Agung.

Di PON 2012 lalu, Jateng meloloskan delapan atlet dan memperoleh 1 medali emas, 1 perak dan 2 perunggu. Satu-satunya medali emas diperoleh judoka senior Kresna Bayu. Tapi atlet asal Semarang ini saat ini telah memutuskan pensiun.

Sama seperti sebelumnya, penentuan atlet yang lolos ke PON 2016 akan menggunakan sistem pengumpulan poin. Ada beberapa seri kejuaraan yang masuk dalam kalender PB PJSI yang menjadi ajang pengumpulan poin. Mulai kejurnas Wismoyo Cup, kejurnas Yunior-Senior Kartika Cup, Kejurnas Piala Kapolri, Kejurnas Mahasiswa dan beberapa kejuaraan lain.

Untuk bisa bertanding di PON 2016 harus masuk dalam rangking delapan besar di tiap kelas yang dipertandingkan. Penentuannya adalah pada kejurnas terakhir di tahun 2016 mendatang. Saat ini, untuk Jateng Desi dan Kristian masuk zona aman dan hampir pasti lolos ke PON 2016 karena telah mengumpulkan ‘poin keramat’ yakni 5.000 poin. Judoka Jateng lain yang masih harus berjuang mengumpulkan poin, menurut Agung, ada sekitar tujuh atlet yakni lima putri dan dua putra. Mereka sementara masuk dalam posisi delapan besar di tiap kelas. “Tapi kita masih punya atlet yang masuk dalam posisi 9, 10, 11 dan 12 di tiap kelas. Mereka masih punya kesempatan tampil di PON, asal bisa mengumpulkan lebih banyak poin di kejuaraan-kejuaraan nasional tersisa di tahun 2015 dan 2016 sebelum PON berlangsung,” bebernya.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan sarana, Agung mengaku akan terus memberikan semangat pada para atletnya. Namun diakui, Jateng khususnya Kota Semarang memang tidak punya tempat berlatih judo. Sehingga peluang di PON 2016 mendatang akan cukup berat. “Saat dekat PON 2016 nanti mungkin kita akan baru berkumpul dan berlatih bersama di markas batalyon Banteng Raiders di Srondol Semarang. Di sana ada tempat latihan dangan matras yang cukup bagus,” tandas Agung.

Soal persaingan di PON 2016 mendatang, Jabar, Jatim, DKI Jakarta, Bali dan Kaltim saat ini masih yang terbaik di Indonesia. Jabar, menurut Agung punya dojo bagus di Jalan Emong Bandung, Jatim punya dojo Kertajaya di Surabaya dan DKI punay dojo istimewa di Kelapa Gading. “Kita akui tanpa dojo memang peluang kita berat di PON 2016. Target PJSI Jateng hanya mempertahankan 1 medali emas seperti yang diraih di PON 2012 lalu. Padahal di PON 2016 ada 22 medali emas yang diperebutkan,” paparnya. (smu)