BRINGIN—Sejumlah warga Kecamatan Beringin dinyatakan suspek demam berdarah dengue (DBD), yang diperkirakan ada 60 orang. Untuk meminimalisasi wabah tersebut, Puskesmas Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang melakukan sosialisasi melalui kepala desa, bidan dan posyandu yang tersebar di Kecamatan Bringin.

Camat Bringin HM Tanwir saat dikonfirmasi wartawan kemarin (21/1) mengatakan bahwa untuk data suspek DBD, belum tahu persis jumlahnya. Meski diperkirakan ada 60 orang yang suspek. Kecamatan melalui kepala desa dan bidan terus melakukan melakukan sosialisasi terkait program menguras, mengubur, menutup (3M).

“Saya terus melakukan sosialisasi kepada warga agar melakukan kebersihan terutama bak mandi. Karena itu salah satu penyebab terjadinya demam berdarah. Tapi sampai saat ini suspek DBD bisa diatasi,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas, Dona Elisabeth mengatakan bahwa data yang masuk saat ini untuk suspek DBD baru 2 orang. Kemungkinan bertambah menjadi 4 sampai 7 orang. Tapi Puskesmas masih menunggu data dari rumah sakit.

“Data yang kami peroleh sekarang ada dua orang yang positif DBD. Dari informasi yang kami peroleh, ada 4 orang lagi dari Karang Lo. Tapi saat ini masih mendapat perawatan di RSUD Salatiga. Biasanya dari RSUD akan mengirim pemberitahuan jika warga Kecamatan Bringin ada yang positif demam berdarah,” katanya.

Menambahkan, memang sosialisasi terkendala masalah pemahaman masyarakat yang kadang tidak memahami instruksi dari Puskesmas. Banyak masyarakat yang meminta foging, padahal terbukti tidak efesien. Yang paling efesien adalah 3M. Apalagi sekarang musim penghujan, bak mandi tidak bisa terkontrol kebersihannya.

“Tiap hari, banyak sekali pasien yang menderita penyakit flu, batuk dan masuk angin. Kemungkinan, penyebabnya kebersihan bak mandi dan lingkungan yang terbengkalai. Tapi kami akan terus menyosialisasikan progam 3M,” tandasnya.
Terkait dengan penelitian mahasiswa Akademi Keperawatan Ngudi Waluyo, ada 102 Kepala Keluarga (KK) yang bak mandinya terdapat jentik nyamuk Aides Aigepty. “Namun itu perlu adanya cek laboratorium. Karena belum tentu itu nyamuk aedes aegypti, bisa jadi chikungunya,” katanya. (mg14/ida)