Disperindag Terapkan SKKNI Hadapi MEA

116
POTENSIAL: Kepala Disperindag Jateng P Edison Ambarura, tengah mengamati desain batik dalam pameran di Java Mall, kemarin. (TRI SUTRISTYANINGSIH/RADAR SEMARANG)
POTENSIAL: Kepala Disperindag Jateng P Edison Ambarura, tengah mengamati desain batik dalam pameran di Java Mall, kemarin. (TRI SUTRISTYANINGSIH/RADAR SEMARANG)
POTENSIAL: Kepala Disperindag Jateng P Edison Ambarura, tengah mengamati desain batik dalam pameran di Java Mall, kemarin. (TRI SUTRISTYANINGSIH/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Industri batik memilik pasar yang sangat bagus, sementara Jateng dikenal sebagai pusat perdagangan batik. Melihat potensi yang sangat besar, Disperindag Jateng akan menerapkan Sertifikasi Kerja Kompetensi nasional Indonesia (SKKNI) bidang batik. SKKNI ini juga untuk melindungi industri batik dari serbuan industri batik luar negeri menghadapi pasar bebas ASEAN mendatang.

Menurut Kepala Disperindag Jateng P Edison Ambarura, perajin batik dari luar negeri yang masuk ke Indonesia termasuk Jateng harus memiliki SKKNI. Selain melindungi perajin, hasil industri batik asing juga harus memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI), tanpa kedua hal tersebut, tentunya perajin batik asing maupun hasil karyanya tidak dapat diperdagangkan di Indonesia. “Perlindungan ini penting, mengingat batik merupakan warisan budaya leluhur bangsa yang sudah diakui dunia, sehingga guna melestarikan batik Indonsia SKKNI dan SNI harus dierapkan secara maksimal,” jelasnya.

Ditambahkan, masyarakat juga harus bisa membedakan batik hasil karya perajin dengan hasil tekstil yang menyerupai batik. Ini penting mengingat batik adalah hasil tulis para perajin, bukan produk tekstil. Dijelaskan batik ada beberapa jenis, di antara batik tulis, batik cap, dan batik printing. “Jadi kain dengan corak batik hasil produk tekstil tidak termasuk kerajinan batik,” tegas Edison.

Dijelaskan jumlah perajin batik di Jateng saat ini mencapai 1.611 unit. Dari jumlah tersebut Edison mengakui belum dapat merinci yang perajin yang sudah mendapatkan SKKNI.

Sementara itu, Darmawan, salah satu panitia pameran dari teamwork partner mengungkapkan pameran batik di Java Mall Semarang ini diikuti 72 stan batik dan kerajinan dari berbagai daerah di Jateng. Pameran yang digelar hingga 26 Januari menghadirkan berbagai produk kreasi batik hingga kerajinan kulit dan lainnya. (tya/smu)