MAGELANG–Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Magelang mendesak Pemkot segera menurunkan tarif angkutan umum. Sebab, meski pemerintah sudah menurunkan harga BBM hingga dua kali, namun awak angkutan umum di Magelang enggan menurunkan tarif penumpang.

Ketua Apindo Kota Magelang, Eddy Sutrisno, mengatakan, tarif angkutan menjadi elemen penting dalam pergerakan dunia usaha.

“Tidak adil rasanya ketika harga BBM naik responsnya cepat, sedangkan saat BBM turun responsnya lambat,” katanya, kemarin.

Toh, Eddy mengakui, harga suku cadang dan harga kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas)– khususnya di pasar tradisional– belum menyesuaikan turunnya BBM. Karena itu, Pemkot berperan penting dalam menstabilkan gejolak harga di pasaran.

“Pemerintah bisa meminta masyarakat untuk menahan belanja agar suplay barang lebih banyak dibanding permintaan atau kebutuhan. Dengan ini, sedikit banyak bisa mempengaruhi harga di pasaran,” akunya.

Terpisah, sopir angkot justru kebingungan untuk menentukan tarif. Sebab, hingga kini, belum ada keputusan yang mengatur perubahan tarif baru. Langkah inisiatif yang diambil adalah menarik tarif secara sukarela dari penumpang.

“Ya bingung sih. Biasanya jauh atau dekat tarifnya Rp 3.000. Sekarang seikhlasnya penumpang saja ngasih berapa, ada yang ngasih Rp 2.000, ada juga yang Rp 1.500,” ungkap Winarto, 48, seorang sopir angkot jalur 10.

Ia mengaku, saat ini hidup sopir makin sulit. Kesejahteraan makin menurun, apalagi BBM terus berubah naik turun. Satu sisi, keputusan tarif maupun harga di pasaran, kadang masih tak seimbang.

“Sebelum BBM naik, kita setor ke perusahaan Rp 80 ribuan. Setelah kenaikan BBM, kita setor Rp 85 ribu,” ucap Winarto sembari mengatakan bahwa penumpang angkot masih didominasi pelajar. Karena itu, jika libur sekolah, maka penurunan pendapatan per hari turun drastis.

Warga Potrobangsan itu berujar, saat ini harga suku cadang masih cukup tinggi. Oli, misalnya, naik dari sebelumnya Rp 35 ribu, sekarang Rp 36 ribu. Meski BBM turun, toh ada kenaikan Rp 200 dibanding sebelum BBM naik. “Ya harapan saya, kalau BBM naik, maka tarif naik, ini menyangkut kesejahteraan kami.”

Wakil Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Organda Kota Magelang, Asriyanto menjelaskan, terkait penetapan tarif baru, pihaknya masih melakukan evaluasi bersama Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kota Magelang. Pengajuan komponen tarif baru akan dilakukan pada Kamis (22/1) ini.

“Komponen tarif baru itu harus memperhatikan harga suku cadang kendaraan, harga kendaraan, bunga bank, upah minimum Kota Magelang, dan harga BBM. Kalau semua sudah selesai di rumuskan, baru di ajukan ke wali kota,” tandasnya.

Sebelum tarif baru berlaku, ia mengimbau kepada para sopir untuk tidak menarik penumpang dengan tarif lama. Jika ada yang melanggar, Organda tak segan akan melapor ke Dishub.

Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dishubkominfo Kota Magelang, Chandra Wijatmiko Ady menuturkan, terkait tarif, pihaknya sedang mengevaluasi. Survei pun telah dilakukan agar penentuan tarif baru menjadi keputusan tepat.

“Kami sudah survei dengan Organda maupun Forum Komunikasi Angkutan Kota Magelang (Forkam). Yang menentukan tarif itu bukan hanya BBM saja, ada komponen yang lain, termasuk penggunaan ban, servis ringan sampai berat juga dihitung. Lalu suku cadang, harga oli dan sebagainya. Secepatnya akan segera kami data, agar tariff baru segera di putuskan,” pungkasnya. (put/isk)