KUMUH: Sisa-sisa sampah paska banjir di Kali Aji, Desa Plantaran, Kecamatan Kaliwungu menimbulkan bau busuk yang mengganggu aktifitas warga. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
KUMUH: Sisa-sisa sampah paska banjir di Kali Aji, Desa Plantaran, Kecamatan Kaliwungu menimbulkan bau busuk yang mengganggu aktifitas warga. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
KUMUH: Sisa-sisa sampah paska banjir di Kali Aji, Desa Plantaran, Kecamatan Kaliwungu menimbulkan bau busuk yang mengganggu aktifitas warga. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

KENDAL – Hujan yang mengguyur Kendal, Senin (19/1) malam hingga Selasa (20/1) membuat talud di bantaran Kali Aji Desa Plantaran, Kaliwungu Kendal Jebol. Talud tidak bisa membendung ketinggian debit air yang disertai dengan derasnya air. Air langsung masuk ke pemukiman warga sampai ketinggian 50 cm. Tidak hanya itu, banjir juga membawa endapan lumpur dan tumpukan sampah ke rumah warga. Sampah bahkan sampai menumpuk di sepanjang aliran sungai dan menimbulkan bau busuk.

Luapan air disertai lumpur dan sampah hampir memenuhi sepanjang jalan depan Pasar Gladag, Kaliwungu. Sedimentasi sungai tinggi, jadi debit air cepat meluap dan membuat jebol talud .Ia mengaku, hampir tiap tahun pemukiman warga menjadi langganan banjir akibat luapan air sungai. “Parahnya banjir bercampur dengan lumpur dan sampah. Sehingga menimbulkan bau tidak sedap,” ,” kata seorang warga, Evrina, 34, kemarin.

Warga sebenarnya sudah mengeluhkan soal sedimentasi yang tinggi. Tapi tidak ada respon dari pemerintah untuk mengeruk dan melakukan normalisasi. “Padahal dulu setiap satu tahun sekali sungai ini dilakukan pengerukan, sehingga warga tidak khawatir saat musim hujan tiba,” tambah seorang warga Sulistyowati, 58.

Banjir setinggi 50 cm juga menggenani kelurahan Pakauman dan Ngilir, Kecamatan Kendal. Warga akhirnya kesulitan melakukan aktivitas. Sama halnya di Gladag, banjir di Kelurahan Pegulon, Pakauman dan Ngilir juga disebabkan adanya debit dari sungai Kendal yang meluap akibat normalisasi yang tidak maksimal. “Sudah biasa banjir di sini. Pemerintah juga tidak mau ambil pusing nyatanya sungai tidak segera dilakukan normalisasi,” kata Sutris, 33.

Seorang petugas Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air, Energi dan Sumber Daya Minreral (DMB SDA ESDM) Kendal, Budi Santoso, 52, mengaku, sampah menjadi kendala utama dalam menjaga aliran sungai. “Kesadaran masyarakat akan kebersihan dan membuang sesuai tempatnya masih rendah. Sehingga saat hujan air aliran sungai mampet akibat tumukan sampah,” katanya. (bud/fth)