MUNGKID– Masih ingat kasus pembunuhan terhadap Krini, 52, yang dilakukan Slamet Trisno alias Gotris, 20 warga Ngargosoko Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang di lokasi perajangan tembakau Desa Candiretno Kecamatan Secang 18 September 2014 silam?. Kasus ini mulai disidangkan di PN Mungkid.

Majelis hakim Ali Sobirin memimpin sidang pembuktian kasus ini. Selama proses persidangan, terdakwa Gotris didampingi penasehat hukumnya, Agus Joko Setiono.

Dalam dakwaan yang di‎bacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Fitri Rachmawati kasus ini dilatarbelakangi masalah pribadi. Pelaku emosi karena dituduh mencuri.

Jaksa meyebutkan kronologi insiden berdarah yang merenggut nyawa korban. Sekitar pukul 07.00, usai kerja lembur merajang tembakau semalaman, terdakwa bersama korban dan teman kerja lainnya beristirahat di ruang depan gudang. Karena capek dan mengantuk, Gotris malah sempat tertidur sekitar 2 jam. Sekitar pukul 09.45, terdakwa terbangun dan menuju kamar mandi. Namun dia urung masuk karena mendengar suara korban sedang berada di dalam.

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Gotris yang merasa dituduh mencuri tembakau oleh korban. Saat itu Gotris bertanya kepada korban. “Ngopo kok inyong rasane kaya dicurigai ?(Kenapa kok saya merasa seperti dicurigai).”

Menanggapi pertanyaan itu, korban bilang tidak ada yang curiga karena tidak ada bukti. Mendengar jawaban yang tak memuaskan, terdakwa menjadi jengkel. Dia mengambil congkong (alat pengambil contoh beras dalam karung) dan menusukkan beberapa kali ke perut, punggung dan beberapa bagian tubuh korban.

Korban yang tak bisa melawan jatuh terjerembab dan bersimbah darah. Melihat korban sekarat, terdakwa mencoba bunuh diri dan menusukkan congkong yang masih dalam genggaman tangan ke bagian perutnya sendiri.

“Melihat kejadian itu saksi Rochimin, rekan kerja terdakwa, yang segera mendekat dan merebut congkong dari tangan terdakwa,” kata Fitri.

Meski mengalami luka parah, namun Gotris masih dapat berlari ke jalan depan gudang dan menyetop seorang pengendara sepeda motor. Kepada pengendara sepeda motor, Gotris yang hanya tamat SD minta diantar menyerahkan diri ke Mapolsek Secang.

Berdasar visum et repertum dokter RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, nomor; 100\2014 yang ditandatangani dr IB Gd Surya Putra Pidada SPf pada 11 November 2014, penyebab kematian korban karena luka tusuk akibat kekerasan tajam di dada dan punggung yang menembus dan merusak paru-paru, jantung dan hati hingga mati lemas. Dalam perkara ini, terdakwa dijerat dengan dakwaan berlapis. Dakwaan kesatu, melanggar Pasal 338 KUHP dan dakwaan kedua, Pasal 351 ayat (3) KUHP. (vie/ton)