GUNUNG SAMPAH : Seorang ‎pemulung memilah sisa-sisa sampah yang masih bisa dimanfaatkan di TPSA Pasuruhan Kecamatan Mertoyudan, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
GUNUNG SAMPAH : Seorang ‎pemulung memilah sisa-sisa sampah yang masih bisa dimanfaatkan di TPSA Pasuruhan Kecamatan Mertoyudan, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)
GUNUNG SAMPAH : Seorang ‎pemulung memilah sisa-sisa sampah yang masih bisa dimanfaatkan di TPSA Pasuruhan Kecamatan Mertoyudan, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/Radar Kedu)

MUNGKID– Pemkab Magelang sepertinya harus berpikir jangka panjang untuk menyelesaikan persoalan produksi sampah di wilayahnya. Bagaimana tidak, ketersediaan lahan tidak sebanding dengan produksi sampah setiap harinya.

Saat ini, Pemkab Magelang hanya memiliki satu tempat pembuangan sampah akhir (TPSA) di Desa Pasuruhan Kecamatan Mertoyudan. Luas 1,7 hektare dan saat ini sudah overload, padahal hanya menampung 7 kecamatan dari 21 kecamatan yang ada.

Data dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Magelang, sampah penduduk Kabupaten Magelang mencapai 2.983.922 liter/hari dengan asumsi timbunan sampah 2,5 liter/orang/hari dan kepadatan curah mencapai 225 kg/meter kubik. Sehingga sampah setahun mencapai 1.089.131 meter kubik atau 245.054 ton/tahun.

Mayoritas sampah tersebut masih didominasi sampah nonorganik, seperti plastik yang sukar diurai. Sampah organik tidak lebih dari 40 persen.

Perluasan lahan TPSA sendiri, akhir pekan lalu disoal warga Desa Deyangan dan Pasuruhan. Mereka menolak rencana Pemkab Magelang karena dinilai mengganggu lingkungan.

Untuk mengatasinya, Dinas Pekerjaan Umum, Energi dan Sumberdaya Mineral (DPU ESDM) Kabupaten Magelang siap melakukan pendekatan dengan warga terkait perluasan lahan TPSA. Mereka berharap perluasan tersebut bisa terealisasi tahun ini. “Kami akan melakukan komunikasi dengan warga terdampak. Kami akan terjunkan tim ke sana,” kata Kepala DPU ESDM Sutarno, Senin (19/1).

Menurut dia, perluasan lahan dengan dana Rp 2 miliar tersebut dilakukan karena kondisi TPSA saat ini sudah tidak bisa menampung sampah. Padahal dalam sehari produksi sampah mencapai jutaan liter sampah diproduksi warga. “Sudah overload jadi mengharuskan untuk diperluas,” katanya.

Dia mengatakan perluasan itu dilakukan dengan membeli beberapa bidang tanah milik warga setempat. “Jumlah luasan lahan belum bisa kami tentukan karena masih menunggu penghitungan appraisal,” beber Sutarno.

Menurut dia, selain untuk menambah daya tampung sampah, perluasan bertujuan untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan. “Karena kapasitasnya sudah penuh itu maka menimbulkan bau yang tidak sedap,” tukas Sutarno.

Sehingga, dengan perluasan ini, dia berharap gangguan lingkungan akan semakin kecil. “Jangka panjangnya kami akan mencari lokasi baru untuk TPSA,” lanjut dia.

Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Magelang Sobikin mengatakan, protes warga muncul akibat masyarakat tidak dilibatkan dalam perencanaan pembangunan Kabupaten Magelang. Juga komunikasi yang tidak berjalan dengan baik. “Padahal gangguan lingkungan ini adalah persoalan mendasar. Karena menyangkut kenyamanan warga,” jelas dia.

Wakil Ketua DPRD Yogyo Susaptoyono mengatakan, persoalan sampah perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam. Ke depan Pemkab harus membuat inovasi pengelolaan sampah sehingga keberadaannya bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar. “Bukan justru mengganggu saja tanpa ada keuntungannya,” ungkapnya.

Dia mencontohkan, pemkab bisa melakukan inovasi sampah untuk dijadikan gas. “Nah gas ini bisa dimanfaatkan warga sekitar,” terangnya.

Sebelumnya diberitakan ratusan warga Deyangan dan Pasuruhan Kecamatan Mertoyudan menggelar aksi unjuk rasa menolak rencana Pemkab Magelang memperluas TPSA. Selama ini keberadaan tempat sampah itu sangat mengganggu baik dari segi kenyamaannan dan kesehatan. Warga menggelar aksi dengan memblokir jalan masuk ke TPSA dan konvoi keliling desa. Mereka juga memasang sejumlah poster dan spanduk. (vie/ton)