Harga BBM Turun, SPBU Bentangkan Rantai

263
BBM HABIS : Sejumlah SPBU di Kabupaten Batang membentangkan rantai, lantaran tidak melayani pembelian BBM akibat stok bahan bakar habis. (MAHFUDZ ALIMIN / RADAR SEMARANG)
BBM HABIS : Sejumlah SPBU di Kabupaten Batang membentangkan rantai, lantaran tidak melayani pembelian BBM akibat stok bahan bakar habis. (MAHFUDZ ALIMIN / RADAR SEMARANG)
BBM HABIS : Sejumlah SPBU di Kabupaten Batang membentangkan rantai, lantaran tidak melayani pembelian BBM akibat stok bahan bakar habis. (MAHFUDZ ALIMIN / RADAR SEMARANG)
Faiz Urhanul Hilal/Radar Semarang
Faiz Urhanul Hilal/Radar Semarang

BATANG-Penurunan harga BBM yang diumumkan jauh-jauh hari, dan diberlakukan pada Senin (19/1) per pukul 00.00, disikapi Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dengan mengurangi stok. Akibatnya, bensin langka di beberapa SPBU sampai Senin (19/1) malam kemarin.

Bahkan, SPBU di Kabupaten Batang malah membentangkan rantai, tanda tidak melayani pembelian. Akibatnya, puluhan pengendara yang hendak membeli BBM terpaksa berpindah ke SPBU Lain. Namun hal yang sama dialami para pengendara, begitu sampai di depan SPBU. Sebagian dari mereka pun memilih berhenti dan menunggu hingga datangnya stok yang dikirim Pertamina ke SPBU tersebut.

Subhan Ashari, 38, salah satunya. Dengan membawa mobil boks, ia terpaksa berhenti di SPBU 44.512.05 di Jalan Jenderal Soedirman, Jalur Pantura Kabupaten Batang. “Saya sudah muter ke beberapa SPBU, namun sama saja. Takutnya kehabisan bensin di jalan malah tambah repot. Karena mobil yang saya kendarai sudah ada tanda-tanda bensin habis,” kata pengusaha katering saat dijumpai di lokasi, kemarin.

Dimas Nuh Jaya, selaku pengurus SPBU 44.512.05 mengaku terpaksa membentangkan rantai di pintu masuknya. Sebab stok premium habis. “Stok premium habis. Akhirnya kami arahkan untuk membeli Pertamax. Itupun stok terakhir. Makanya, kami tutup terlebih dahulu sambil menghabiskan antrean yang ada,” kata Dimas.

Ia menjelaskan pengiriman premium sedang dalam perjalanan. Hal itu telah disampaikan kepada para pengendara yang hendak membeli. Banyak yang akhirnya putar balik, kecuali beberapa pengendara yang merasa bahan bakarnya sudah tidak cukup untuk mencari di SPBU lain. “Harga baru ini, Rp 6.700 untuk premium dan Rp 6.400 untuk harga solar,” katanya.
Sedangkan antrean panjang justru terjadi di SPBU Merdeka di Jalan Merdeka Kota Pekalongan sejak pagi pukul 06.00. Bahkan sampai malam, beberapa kendaraan mengular hingga jalan raya untuk mengantre bensin.

Penjaga SPBU Merdeka, Arif H ungkapkan. Dua tiang daari empat tiang di tempatnya, sudaah habis sejak pukul 4 sore. “Sudah diantre sejak pagi, makanya pukul 16.00 sudah habis. Selain itu, beberapa SPBU sudah kehabisan stok, sehingga banyak yang lari kesini,” kata penjaga SPBU Merdeka, Arif H sambil menunjukkan tulisan Bensin Habis Menunggu Kiriman.

Pengelola SPBU Merdeka Tri Paryono meungkapkan bahwa di tempatnya sisa 35 KL stok semalam, Minggu (18/1). Sedang penjualan premium di tempat tersebut rata-rata sehari 24 KL. “Stok di tempat kami biasa, cuma karena kemarin ada penurunan stok dari beberapa SPBU, sehingga saat ini jadi mengalami kekurangan,” ucap dia.

Sementara itu, seorang pedagang eceran di daerah Kedungwuni, Suci, 45, justru laris manis. Dirinya tidak tahu kalau BBM langka. “Saya belinya tadi pagi (Senin, red). Saya ya tidak tahu kalau ternyata siang ini habis semua,” ungkapnya sambil melayani pembeli.

Suci mengaku, atas kelangkaan BBM, dirinya justru bersyukur lantaran keuntungannya menjadi berlipat. “Saya kulakan perliter Rp 6.700, lalu saya jual Rp 8000,” imbuhnya.

Pantauan Radar Semarang, di sejumlah SPBU terjadi antrean panjang. Sebagaimana di SPBU Kertijayan, Kecamatan Buaran. Lantaran stok premium habis, masyarakat akhirnya menggunakan Pertamax. “Lha mau bagaimana lagi, kalau tidak beli Pertamax tidak jalan,” kata Ratih, 17, seorang pelajar yang sedang antre di SPBU tersebut.

Warga lain, Yono, 50, justru berasumsi bahwa kelangkaan BBM pasca pengumuman turun harga merupakan trik politik pemerintah agar masyarakat menggunakan BBM non subsidi. “Ini pasti trik politik, agar masyarakat pindah ke Pertamax. Harga BBM turun, tapi stoknya tidak ada. Kalau saya memang biasa pakai Pertamax,” ungkap PNS di Kabupaten Pekalongan ini.

Lain halnya dengan pengelola SPBU yang enggan disebutkan identitasnya. Pihaknya mengaku sengaja menunda pengiriman stok BBM agar tidak merugi. “Kalau stok lama dijual pakai harga sekarang, kan rugi. Makanya dari hari Jum’at (16/1) kemarin, kami membatasi pengiriman. Untuk menghabiskan stok yang pakai harga lama. Ini masih menunggu kiriman dengan harga baru,” ungkapnya. (mg12/han/hil/ida)