Gadis Mandiri

114
ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG
ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG
ADENNYAR WYCAKSONO/RADAR SEMARANG

UMUMNYA kaum hawa lebih suka dimanja. Tapi beda dengan Dini Puspita Sari. Gadis kelahiran Wonosobo, 14 April 1994 ini justru lebih suka mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain, termasuk pada orang tua. Bahkan, mahasiswi jurusan Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip ini sejak SMA hingga kuliah selalu mendapatkan beasiswa.

”Waktu SMA dapat beasiswa. Kuliah Alhamdulilah juga dapat beasiswa. Setidaknya ini bisa meringankan beban orang tua,” ujarnya kepada Radar Semarang.

Selain menjadi aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), saat ini Dini disibukkan berbagai kegiatan, di antaranya menjadi duta kampus ASEAN Project Student di Thailand beberapa waktu lalu.

”Waktu menjadi duta kampus, kebetulan pas bulan puasa dan dekat dengan Idul Fitri. Karena tugas, saya harus puasa dan Lebaran di negeri orang. Sedih sih, apalagi tidak dengar suara takbir di sana,” kenangnya.

Di bidang nonakademik, Dini juga punya prestasi yang mentereng di antaranya terpilih tiga besar Duta Museum Jateng 2014, dan 10 besar Finalis Puteri Indonesia Jateng 2015.

”Saya ingin menunjukkan jika wanita bisa mandiri dan setara dengan pria. Tujuannya agar wanita masa kini tidak dianggap rendah lagi,” ujarnya. (den/aro/ce1)