MUSIKUS: Romo Aloysius Budi Purnomo memainkan saksofon dalam perayaan Natal Bersama se-Kota Magelang, Senin (19/1). (AHSAN FAUZI/RADAR KEDU)
MUSIKUS: Romo Aloysius Budi Purnomo memainkan saksofon dalam perayaan Natal Bersama se-Kota Magelang, Senin (19/1). (AHSAN FAUZI/RADAR KEDU)
MUSIKUS: Romo Aloysius Budi Purnomo memainkan saksofon dalam perayaan Natal Bersama se-Kota Magelang, Senin (19/1). (AHSAN FAUZI/RADAR KEDU)

MAGELANG—Ribuan umat Kristiani di Kota Magelang, Senin (19/1) menggelar perayaan Natal Bersama di Gedung Tri Bakti Magelang. Acara dimeriahkan dengan operet bertema “Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga” yang dibawakan gabungan siswa SD, SMP, SMA Tarakanita Magelang, SMA Kristen Magelang, SMA Pendowo dan Orang Muda Katolik (OMK).

Pelatih sekaligus sutradara operet, Gregorius Adik Wijayanto, 38, menyampaikan makna dari pertunjukan tersebut adalah, jika dalam keluarga minim ruang untuk bersama serta minimnya komunikasi antara bapak dan ibu karena terlalu sibuk dengan urusan masing-msing, terjadilah keretakan dalam keluarga. Sebagai korban adalah anak. Anak yang pada hakikatnya menjadi anugerah dari Allah, justru jadi malapetaka.

“Keluarga merupakan hal yang terpenting, dorongan utama dari apa yang kita lakukan bisa tidak berjalan lancar atau sukses, mustahil terwujud jika tanpa peran keluarga. Oleh karena itu keharmonisan, kebersamaan dan kasih sayang keluarga mutlak untuk kita wujudkan,” ujarnya.

Ketua Komisi Hubungan Antar Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang Romo Aloysius Budi Purnomo dalam renunganya menyampaikan pentingnya kebersamaan dan kedamaian antarsesama pemeluk agama di muka bumi ini. Perjumpaan dengan teman, sahabat lintas agama baik Islam, Hindu, Buddha dan Konghucu merupakan panggilan kita sebagai manusia. “Kita tidak bisa hidup sendiri. Kebersamaan itu indah. Kita bersaudara tanpa harus ada diskriminasi, kita tidak hanya baik dengan orang yang berkehendak baik, dengan yang berprasangka buruk pun, kita harus baik,” tutur Budi.

Budi juga membeberkan pengalaman indah kebersaman dengan pemeluk agama lain. Dalam perayaan Natal tingkat provinsi Jawa Tengah, ia berkolaborasi dengan ulama Islam.

“Saya duet bareng dengan KH Budi Harjono, pengasuh Ponpes Al-Ishah Tembalang Semarang. Saya yang main musik dan menyanyi, beliau yang mengiringi dengan tarian sufi. Bahkan pada saat Haul Gus Dur yang ke-5 saya diminta hadir di Ciganjur Jakarta, di situ saya duet bareng dengan penyair Muhammad Husen, beliau membaca syair-syairnya, saya yang mengiringi dengan musik. Jadi kita tidak ada sekat,” jelas alumnus Sekolah Menengah Atas (SMA) Seminari Mertoyudan Magelang ini. (mg2/ton)