JEBOL LAGI - Tanggul Sungai Cabean di Dukuh Pragi, Kecamatan Guntur jebol dan dalam upaya perbaikan dengan alat berat. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
JEBOL LAGI - Tanggul Sungai Cabean di Dukuh Pragi, Kecamatan Guntur jebol dan dalam upaya perbaikan dengan alat berat. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
JEBOL LAGI – Tanggul Sungai Cabean di Dukuh Pragi, Kecamatan Guntur jebol dan dalam upaya perbaikan dengan alat berat. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

DEMAK – Intensitas hujan deras di wilayah Ungaran dan Salatiga terus membuat warga Demak cemas. Betapa tidak, hujan deras membuat tiga tanggul sungai jebol. Yakni tanggul Sungai Cabean di Dukuh Wangun, Desa Rejosari, Kecamatan Karangawen; tanggul Sungai Cabean di Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur serta tanggul Sungai B1 di wilayah Dusun Pragi, Desa Guntur, Kecamatan Guntur.

Jebolnya tiga tanggul ini kembali merendam pemukiman warga dan areal persawahan. Parahnya, salah satu tanggul yang belum sempat diperbaiki ikut jebol. Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak, Anjar Gunadi mengatakan, tiga tanggul sungai yang jebol telah diupayakan untuk diperbaiki segera. Bahkan, warga bersama aparat juga turut bersama-sama menanggulangi bencana tahunan tersebut. “Kita kerja bakti bersama. Semua personel kita kerahkan, termasuk membantu perbaikan tanggul di Desa Tlogoweru,” katanya.

Gunadi menambahkan, tanggul di Tlogoweru jebol malam Sabtu lalu (17/1). Hingga kini, posisi tanggul belum terbendung sehingga air tetap mengalir deras ke persawahan dan pemukiman penduduk di sekitarnya. “Tanggul kembali jebol, ini jelas meresahkan masyarakat. Karena luapan air masuk ke pemukiman,” tambahnya.

Seorang warga Dukuh Bogoreco, Desa Bogosari, Abdul Muid mengatakan, banjir akibat jebolnya tanggul di Tlogoweru membuat areal pertanian ludes. “Airnya masuk ke Dukuh Pragi,” katanya. Ia menambahkan, tanggul sungai yang jebol sebelumnya sudah dipasang trucuk bambu. Tapi tiang pancang untuk menahan perbaikan tanggul jebol itu hilang. “Warga sempat ramai karena tersiar kabar tanggul dijebol ular besar,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Demak, Wibowo melalui Sekretarisnya, Wiwin Edi Widodo mengatakan, akibat terjangan banjir itu, sekitar 90 hektare tanaman padi dan jagung umur 25 hingga 60 hari di Desa Rejosari dan Sidorejo, Kecamatan Karangawen terendam serta terancam puso. Sedangkan, di Desa Guntur, Kecamatan Guntur areal tanaman padi yang kebanjiran mencapai 10 hektare. “Kita masih melakukan pendataan. Akan kita hitung lama tanama terendam apakah bisa puso atau tidak. Kalau nanti ternyata puso maka petani akan kita usulkan mendapatkan bantuan baik benih maupun pupuk. Biasanya kalau puso itu terjadi jika terendam antara 12 hingga 30 hari,”katanya. (hib/fth)