Penanganan Rawa Pening Lamban

128
SULIT DITANGANI : Pertumbuhan Enceng gondok di Rawa Pening semakin tak terkendali sehingga menyebabkan pemerintah kewalahan. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
SULIT DITANGANI : Pertumbuhan Enceng gondok di Rawa Pening semakin tak terkendali sehingga menyebabkan pemerintah kewalahan. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
SULIT DITANGANI : Pertumbuhan Enceng gondok di Rawa Pening semakin tak terkendali sehingga menyebabkan pemerintah kewalahan. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN-Pemkab Semarang dinilai lamban dalam penanganan Rawa Pening Kabupaten Semarang. Rawa terluas di Jawa Tengah ini mengalami pendangkalan karena sedimentasi dan meluasnya tanaman Enceng Gondok. Akibatnya mengganggu kelestarian ekosistem dan menghambat pertumbuhan perekonomian masyarakat.

Koko Komarullah, 37, warga Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Rawa Pening telah membuat pening masyarakat sekitar, karena kondisinya sangat memprihatinkan. Tapi pemerintah lamban menanganinya. Padahal digunakan tempat mencari nafkah petani dan nelayan di desa-desa yang berada di pesisir rawa salah satunya warga Desa Bejalen.

“Kalau Enceng gondoknya meluas, sangat berpengaruh pada hasil tangkapan ikan dan ikan budidaya karamba. Selain itu kalau pulau-pulau enceng gondok bergerak ke pinggir dan daratan, akhirnya menjadi sarang ribuan tikus yang kemudian merusak padi di sawah-sawah sekitar rawa,” kata Koko, Minggu (18/1) kemarin.

Koko menambahkan, pemerintah memang sudah membangun klante untuk mencegah meluasnya enceng gondok. Namun penanganan tersebut kurang efektif. Sebab, penanganan Rawa Pening harus dilakukan bersama-sama dan tidak hanya pada satu titik.
Koko menilai pemerintah lambat dalam menangani Rawa Pening. Sampai saat ini saja sudah tidak gerakan penanganan rawa.
Semestinya pemerintah segera menangani Rawa Pening. Kalau begini terus, masyarakat sekitar rawa kesulitan mencari penghidupan. Sebab hasil tangkapan berkurang, karamba ikan banyak yang rusak karena Enceng Gondok.

“Meski begitu, kami secara swadaya melakukan penanganan sendiri dengan kerjabakti pembersihan Enceng Gondok,” imbuh Koko.

Sementara itu anggota Komisi IV, DPR RI, Fadoli mengatakan, kondisi Rawa Pening memang sudah kritis dan butuh penanganan yang cepat. Saat ini Rawa Pening menjadi salah satu danau yang diusulkan di tingkat pusat untuk mendapatkan penanganan serius. Namun penanganannya tidak satu instansi saja, harus melibatkan sejumlah Kementerian Pertanian, Kehutanan, Perikanan dan Perdagangan serta Pariwisata.

“Sebenarnya ini menyangkut masalah kebijakan pemerintahnya. Rawa Pening sudah menjadi pembahasan di tingkat pusat, dari semua sisi termasuk dari sisi regulasi. Kebetulan kami, sedang mengangkat regulasi perlindungan danau. Penanganannya juga harus melibatkan masyarakat sekitar,” tutur Fadoli.

Lebih lanjut Fadoli mengatakan, Rawa Pening harus dikelola dengan baik sehingga meningkatkan perekonomian masyarakat. Misalnya dibuat kawasan wisata karena potensinya sangat baik. Namun harus jelas dulu batas-batasnya sehingga tidak menanggu kelestariannya. Pengelolaannya juga dapat melibatkan investor, namun jangan sampai meninggalkan masyarakat. Misalnya memberikan ruang bagi masyarakat untuk berdagang atau mengelola Enceng Gondok untuk kerajinan.

“Jadi mana wilayah yang bisa dikelola masyarakat dan mana yang tidak. Kalau memungkinkan pengelolaannya mengajak investor, maka harus investor yang bisa bekerjasama dengan masyarakat. Boleh saja membangun tempat wisata di sana, sejauh untuk daya dukung pemeliharaan dan mengoptimalkan serta tidak melanggar aturan dan meningkatkan perekonomian masyarakat,” pungkasnya. (tyo/ida)