BUTUH PERHATIAN: Mata air Senjoyo mulai tercemar limbah sampah, dan sejumlah infrastruktur juga mengalami kerusakan. Mata Air Senjoyo Tak Terawat. (Munir Abdillah/Radar Semarang)
BUTUH PERHATIAN: Mata air Senjoyo mulai tercemar limbah sampah, dan sejumlah infrastruktur juga mengalami kerusakan.  Mata Air Senjoyo Tak Terawat. (Munir Abdillah/Radar Semarang)
BUTUH PERHATIAN: Mata air Senjoyo mulai tercemar limbah sampah, dan sejumlah infrastruktur juga mengalami kerusakan.
Mata Air Senjoyo Tak Terawat. (Munir Abdillah/Radar Semarang)

SALATIGA—Kondisi mata air Senjoyo semakin mengkhawatirkan. Pasalnya banyak sampah warga dan infrastruktur rusak tidak mendapat perhatian dari Pemkab Semarang. Bahkan batu tulis peninggalan Walisongo yang harusnya di rawat, justru dijadikan pijakan dan tempat mencuci warga.

Dari keterangan Warga, banyak akses jalan menuju kolam pemandian yang rusak berat. Sampah-sampah daun dan plastik yang menumpuk di kali dan kolam seakan dibiarkan begitu saja tanpa ada pembersihan. Padahal jika dikelola dengan baik, akan menambah pendapatan pemerintah Kabupaten Semarang.

Edi, 34, Warga Tegalwaton mengatakan, pembersihan mata air Senjoyo banyak dilakukan oleh relawan. Mereka datang 2 minggu sekali dengan swadaya. Titik fokus mereka adalah kebersihan kolam dan sungai. Kalau pemerintah setempat seakan-akan tutup mata. “Padahal setiap Minggu Senjoyo menjadi tempat wisata warga dari Kabupaten dan Salatiga. Jika pemasukan Senjoyo hanya retribusi karcis tentu tidak maksimal. Coba saja dari air dan infrastuktur dikelola. Diberikan kursi-kursi untuk bersantai para keluarga, pasti lebih ramai,” pungkasnya kemarin (18/1).

Dari pantauan Radar Semarang, banyak sampah plastik dan daun memenuhi kolam Senjoyo. Akses jalan menuju kolam dari arah utara, banyak yang rusak. Pembangunan terakhir Senjoyo adalah atas bantuan Pabrik Textil Damatex. Beberapa Talud banyak yang mulai pecah. Sungai juga dipenuhi banyak sampah. Yang paling disayangkan adalah batu tulis yang seharusnya menjadi cagar budaya, ditumbuhi lumut sampai ukiran batunya tidak kelihatan. Salah satu batu tulis menjadi tempat pinjakan dan tempat mencuci warga. (mg14/zal)