Sehari Sebelum Eksekusi, Asyin Minta Nasi Trancam

360
Tran Thi Bich Hanh. (jpnn)
Tran Thi Bich Hanh. (jpnn)
Tran Thi Bich Hanh. (jpnn)

PINDRIKAN KIDUL- Rintik gerimis mengiringi keberangkatan pengiriman terpidana mati Tran Thi Bich Hanh alias Asyin tadi malam (17/1). Warga negara Vietnam itu akan dieksekusi pada Minggu (18/1) pukul 00.00 (tengah malam tadi, Red) . Satu dari enam terpidana mati itu dibawa dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Wanita Bulu Semarang sekitar pukul 20.50. Sebanyak 6 mobil jenis Avanza dan Xenia, terdiri atas empat warna hitam dan dua warna putih meluncur keluar dari pintu gerbang utama lapas di Jalan MGR Soegijapranata tersebut.

Diduga Asyin berada di mobil urutan kedua dengan pengawalan ketat petugas dari Satuan Brimob Polda Jateng sebanyak 8 anggota Brimob. Nampak sekilas Asyin berada di bangku tengah mobil mengenakan baju warna putih. Tanpa pengawalan baik mobil voorijder maupun mobil ambulans.

“Ada di mobil urutan nomor dua. Pakai baju putih sendiri,” kata salah seorang anggota Dalmas Satuan Bhayangkara (Sabhara) Polrestabes Semarang yang tadi malam ikut mengamankan lokasi.

Meski proses pemberangkatan sudah berlangsung, namun penjagaan di sekitar lapas masih ketat hingga tadi malam. Ratusan anggota Brimob dan Sabhara masih secara ketat melakukan penjagaan. Direncanakan, usai dieksekusi mati di suatu tempat di Kabupaten Boyolali, Asyin akan dikremasi jenazahnya di krematorium Kedungmundu, Semarang.

Usai pemberangkatan, Kalapas Kelas II A, Bulu, Kota Semarang Suprobowati enggan memberikan pernyataan terkait proses pemberangkatan Asyin ke Boyolali. Begitu keluar, Suprobowati langsung masuk ke rumah dinas lapas.

Pada pagi hingga siang hari kemarin, Radar Semarang nyanggong di depan Lapas Wanita Bulu tempat Asyin dibui. Pintu gerbang lapas tertutup rapat. Sedangkan di pintu lapis kedua, tampak seorang petugas berseragam polri berjaga.

Sekitar pukul 06.00 pagi sempat masuk iring-iringan 9 mobil, di antaranya 1 mobil ambulans, 1 mobil tahanan, dan 7 mobil Brimob Polda Jateng. Diduga mobil tersebut hendak menjemput napi Asyin yang masih ditempatkan di ruang isolasi. Namun saat dikonfirmasi Kepala Lapas Wanita Bulu Suprobowati membantah jika rombongan mobil tersebut hendak menjemput Asyin. “Itu mobil petugas Lapas Bulu. Karena kami tidak punya parkiran di luar ya semua kami masukkan,” ujar Probo, panggilan akrab wanita berjilbab ini.

Sehari kemarin, pihak Lapas Bulu juga tak mengizinkan jika ada anggota keluarga napi yang hendak membezuk. Pihak lapas memasang pengumuman yang isinya: “Diberitahukan kepada bapak atau ibu pengunjung Lapas Kelas II A Wanita Semarang, bahwa pada hari Sabtu, 17 Januari 2015 kunjungan ditiadakan. Namun untuk pengiriman barang lain-lain diperbolehkan.” Pengumuman itu diteken oleh Kalapas Suprobowati.

“Kami memasang pengumuman itu karena petugas lapas terbatas, sehingga hari ini (kemarin) kami meniadakan pembezuk. Terus terang kami kekurangan petugas, di sini hanya 64 petugas. Apalagi petugas sistem database permasyarakatan (SDP) sangat terbatas. Kami juga bergantian memberi motivasi kepada Asyin. Tapi Senin besok peraturan pengunjung sudah kembali normal,”jelas Probo.

Tentu saja, peniadaan jam bezuk itu sempat membuat sejumlah keluarga napi kecele. Salah satunya Maiji, asal Jepara. Ia mengaku baru mengetahui adanya pengumuman pelarangan membezuk itu kemarin. Karena tak bisa bertemu anggota keluarganya yang dipenjara di lapas tersebut, akhirnya Maiji menitipkan barang yang dibawa ke petugas lapas. “Hari Sabtu biasanya bisa masuk, tapi hari ini (kemarin) ternyata nggak boleh. Padahal saya sudah jauh-jauh dari Jepara,” keluhnya.

Putranti, Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP) Wanita Semarang menambahkan, keinginan Asyin sebelum hari ini dieksekusi mati agar jenazahnya dikremasi dan disimpan di samping makam pendetanya di Semarang yang sudah meninggal beberapa hari lalu. “Saat ini, Asyin masih di lapas. Tadi pagi (kemarin) sempat minta nasi trancam khas Semarang. Saya salut, mental Asyin sangat bagus, karena dia telah siap dihukum mati,”katanya.

Seperti diketahui, Tran Thi Bich Hanh alias Asyin ditangkap petugas Bea dan Cukai di Bandara Adi Soemarmo Solo pada 19 Juni 2011. Ia kedapatan membawa narkoba jenis sabu seberat 1,104 kilogram senilai Rp 2,2 miliar. Selain Asyin, lima terpidana mati lainnya yang rencananya bakal dieksekusi hari ini adalah Namaona Denis, 48, warga Negara Malawi; Marco Archer Cardoso Mareira, 53, warga Negara Brazil; Daniel Enemua, 38, warga Negara Nigeria, dan Ang Kim Soei, 62, tidak jelas kewarganegaraannya. Mereka dieksekusi setelah permohonan grasinya ditolak oleh Presiden Joko Widodo pada 30 Desember 2014 lalu.(mg21 /aro)