Koesnan Hoesi. (DOK. SECAC)
Koesnan Hoesi. (DOK. SECAC)
Koesnan Hoesi. (DOK. SECAC)

SECAC atau Semarang Cartoon Club digagas oleh Yehana SR dan almarhum Amen Budiman. Kelahirannya dipicu rasa galau terhadap kelompok kartun kota lain yang terlebih dahulu muncul. Pada 1981, Jaya Suprana menyelenggarakan pameran kartun di Semarang. Sejumlah kartunis peserta pameran menuliskan identitas di gambar mereka, seperti Kokkang (Kaliwungu) dan Brigade Kelompok Kecil (Wonogiri). Sebagai kartunis yang berdomisili di Ibu Kota Jateng, Yehana SR merasa kecolongan dengan keberadaan kelompok kartun tersebut.

Yehana lalu mendiskusikan hal itu bersama mendiang Amen Budiman. Hasilnya, pada 16 April 1982, Yehana dan Amen sepakat membentuk SECAC. Sejumlah kartunis turut bergabung, seperti Koesnan Hoesie, Gunawan Pranyoto, Liem Hok Swie, Ratno PT, dan Zaenudin. Yehana ditunjuk jadi ketua.

Setelah resmi berdiri, SECAC berbenah. Berbagai program dilaksanakan, salah satunya klinik menggambar kartun yang dipandu oleh Goen. Rumah Yehana SR di Jalan Puspanjolo Tengah II/18 dijadikan base camp.

Dari Klinik Kartun lahir kartunis-kartunis berbakat yang kemudian merajai halaman kartun di pelbagai media di Indonesia. Beberapa di antaranya bahkan menjadi kartunis tetap dan sering mendapat penghargaan internasional, seperti Loekis Haryadi (Seputar Semarang), Hanung Kuncoro (Bola), Suprianto GS (Suara Merdeka), Ramli Badrudin (Bintang Milenium), Jitet Kustana (Kompas), Leak Kustiya (Jawa Pos), Sudarmin (Ina), Slamet Widodo (Dinamika Hukum), Yulianto (Polkadot Media), Boedy HP (Berita Kita), serta masih banyak lagi yang tidak mungkin disebut di sini satu persatu. Mereka yang tadinya bisa dibilang bukan siapa-siapa, berkat SECAC menjadi seseorang yang memiliki nama besar. (ewb/aro)