Lestarikan Tembakau Lokal, Ada Anggota Kaum Hawa

486
PENCINTA ROKOK POPEYE : Sejumlah anggota PTCI chapter Semarang saat merayakan ulang tahun ke-4 belum lama lalu. (DOK PTCI SEMARANG)
PENCINTA ROKOK POPEYE : Sejumlah anggota PTCI chapter Semarang saat merayakan ulang tahun  ke-4 belum lama lalu. (DOK PTCI SEMARANG)
PENCINTA ROKOK POPEYE : Sejumlah anggota PTCI chapter Semarang saat merayakan ulang tahun ke-4 belum lama lalu. (DOK PTCI SEMARANG)

Selain ingin memperkenalkan rokok popeye ke masyarakat luas, komunitas pencinta rokok cangklong ini juga ingin melestarikan tembakau lokal dengan cara meraciknya sendiri. Seperti apa?

EKO WAHYU BUDIYANTO

TIDAK banyak orang yang menyukai rokok cangklong atau dikenal dengan rokok popeye. Meski begitu bukan berarti pecinta rokok cangklong ini sedikit. Tercatat sebanyak 3.339 pencinta rokok cangklong tergabung dalam Komunitas Pipe and Tobacco Club Indonesia (PTCI). Mereka terbagi menjadi beberapa chapter, di antaranya chapter Jakarta, Bandung, dan Semarang.

Di PTCI chapter Semarang terdapat beberapa nama yang aktif dalam membesarkan komunitas ini. Di antaranya, Patrik Budi Setia Wikanta, Iwan Prasetyo, dan Baiquni. Komunitas PTCI chapter Semarang sendiri diketuai oleh Rafael Byan. Kini anggota komunitas ini di Semarang mencapai ratusan orang.

Mohamad Khasan, salah satu anggota PTCI Semarang mengatakan, para anggota PTCI biasa melakukan komunikasi lewat sosial media. Baik itu di Facebook, Twitter maupun media sosial yang lain. Komunitas yang berdiri pada 1 Mei 2011 ini selain sebagai wadah bagi para pencinta rokok cangklong, juga ingin melestarikan tembakau lokal yang tidak kalah dengan tembakau impor.

Dia mengaku bisa bertambah wawasannya soal jenis-jenis tembakau setelah bergabung di komunitas ini. “Selain itu jelas dapat memperbanyak teman. Kalau kita mau kumpul-kumpul, biasanya komunikasi dulu lewat media sosial. Setelah fix, kita baru kumpul,” kata pria yang akrab disapa Khasan ini kepada Radar Semarang.

Dijelaskan Khasan, dengan pipa cangklong, kini tembakau jenis Srintil (tembakau khas Wonosobo dan Temanggung) lebih dikenal di tengah masyarakat. Di tangan anggota komunitas ini berbagai jenis tembakau bisa diolah menjadi berbagai rasa.

Khasan bersama kawan-kawannya di komunitas tersebut bisa meracik tembakau dari petani menjadi berasa mint, sosis, kismis, kopi, cokelat, dan kemenyan. Menurutnya, keahlian tersebut didapat dengan mengolah secara manual tanpa saus. “Kami open terhadap semua kalangan yang mau bergabung. Rasa tembakau lokal ternyata nikmat bila dibakar menggunakan pipa cangklong,” tuturnya.

Meski masih tergolong muda, kemampuan anggota komunitas ini dalam meramu tembakau dan membuat pipa cangklong handmade tidak perlu diragukan. Bahan kayu sawo, sono keling, glugu (batang kelapa), hingga kayu kendalisodo dipadukan dengan tuas filter dari tanduk kerbau bisa dibuat menjadi pipa jenis popeye, gold chinnese money, bufallo, dan duo pipe.
“Semua bahan kami dapat dari kayu lokal, ternyata tidak kalah dengan pipa impor. Dengan pipa yang dimiliki, kami mulai menyukai barang kualitas lokal,” jelasnya.

Penikmat rokok cangklong tidak hanya didominasi para orang tua saja, namun saat ini telah berkembang di kalangan anak muda sebagai penikmat rokok yang pada masa lalu merupakan kebiasaan para bangsawan dan tradisi kaum ningrat untuk menandakan status mereka di masyarakat. Bahkan, kini anggota PTCI juga terdapat dari kaum hawa (wanita). Tak hanya berasal dari Semarang, ada juga yang dari Ambarawa, Salatiga dan Solo. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai mahasiswa, PNS, swasta, hingga pejabat.

Dikatakan, setiap kali kumpul-kumpul, biasanya dari rumah, masing-masing anggota komunitas rokok cangklong telah membawa perlengkapan merokok, seperti pipa, korek api, dan tembakau yang disimpan dalam tas kecil atau kotak kayu. Sebelum memulai ‘ritual’ merokok, ada salah-satu anggota yang meracik dan mencampur tembakau dari berbagai jenis sehingga dihasilkan aroma yang diinginkan. Menurut Khasan, ciri racikan tembakau yang berhasil, jika racikan sang koki berubah menjadi aroma yang pas.

Diungkapkan Khasan, setiap kali berkumpul bersama, secara tidak sengaja mereka kerap menemukan satu formula tembakau untuk dirokok. Menurut Khasan, berbeda dari rokok kretek biasanya, rokok cangklong ini memiliki efek yang kecil bagi kesehatan karena asapnya tidak terlalu tebal.

Selain itu, rasa rokok cangklong dibandingkan rokok kretek juga banyak pilihan. Menurut mereka, penikmat rokok cangklong adalah petualang rasa untuk mengekplorasi dan mencoba rasa rokok yang berbeda-beda.

Pencinta rokok cangklong lainnya, Adam Z, mengatakan, kegiatan komunitas PTCI Semarang tidak mesti waktunya, karena setiap anggota berasal dari luar kota. Setiap pertemuan juga dipakai sebagai ajang bertukar racikan tembakau baik lokal maupun impor. Selain itu juga untuk saling share informasi tempat menjual tembakau yang unik maupun jenis pipa cangklong.

Adam menjelaskan, tidak ada syarat khusus untuk menjadi anggota komunitas ini. Yang terpenting memiliki keinginan untuk mengetahui komunitas rokok cangklong.

Satu-satunya pencinta rokok popeye dari kaum hawa, Banati Siska Isnaeni, mengaku ketagihan ketika ia mencoba menghisap rokok popeye. Kini, Banati yang juga sering disapa Ncis ini memiliki 3 pipa cangklong, dan setiap harinya ia selalu meluangkan waktu untuk menikmati tembakau yang dibakar di pipa cangklong miliknya.

“Pertama agak ragu-ragu. Tapi setelah satu kali mencoba racikan tembakau lokal, langsung ketagihan. Terkadang jika saya libur kerja, saya menyempatkan waktu untuk melancong ke Wonosobo atau Temanggung guna mencari jenis tembakau yang lain,” kata Ncis. (*/aro)