Oleh: Indriastuti DS
Oleh: Indriastuti DS
Oleh: Indriastuti DS

SEJAK diluncurkan dan diberlakukannya kurikulum 2013 (K13) telah menuai banyak respon dan komplain dari berbagai pihak, mulai dari ketersediaan buku, pelatihan guru yang belum menyeluruh hingga kesulitan – kesulitan dalam penilaian. Namun, begitu presiden berganti, Menteri Pendidikan berganti pula, serta merta kurikulum 2013 yang pada waktu pemerintahan periode lalu begitu gencar untuk dilaksanakan, guru mengikuti pelatihan demi pelatihan, kini dihentikan pelaksanaannya untuk dievaluasi. Hanya di beberapa sekolah tertentu yang masih tetap menggunakannya, yakni sekolah yang telah melaksanakan K13 selama tiga semester.

Namun apapun kebijakan pemerintah, kita sebagai guru tak perlu bingung atau ragu. Tugas kita adalah mendidik putra – putri bangsa demi masa depan yang lebih baik. Jadi apapun kurikulumnya guru harus tetap dapat mengajar dengan baik.

Kurikulum 2013 sebenarnya sangat bagus, ini dapat kita lihat dari pendekatan yang digunakan yakni Scientific Approach dan metode–metode pembelajaran yang dikemukakan Problem Based Learning, Discovery Based Learning dan Project Based Learning.

Problem Based Learning adalah metode pembelajaran yang berbasis pada masalah. Dengan metode ini guru mengajak siswa untuk melihat masalah yang dihadapi, siswa diminta untuk mencari kejelasan isu/masalah tersebut dari berbagai sumber. Kemudian dalam sebuah diskusi siswa saling bertukar pengetahuan dan merumuskan solusi dari permasalahan tersebut.

Discovery Based Learning adalah pembelajaran berbasis penemuan. Diharapkan dengan metode ini siswa dapat menemukan konsep atau prinsip yang sebelumnya belum mereka ketahui.

Project Based Learning adalah pembelajaran yang berorientasi pada proyek yang harus dibuat atau dikerjakan oleh siswa pada akhir dari sebuah KD (Kompetensi Dasar). Proyek dapat berupa tugas siswa secara individu, berpasangan, atau kelompok.

Proyek Siswa
Dalam Project Based Learning, guru memberikan siswa proyek – proyek yang harus dikerjakan. Proyek kreatif yang dibagikan kepada siswa bisa sama, bisa juga berbeda – beda, tetapi masih dalam sebuah Kompetensi Dasar (KD) yang sama.

Contoh pembelajaran menggunakan Project Based Learning yang dapat dilakukan, di antaranya, proyek membuat poster yang mendeskripsikan tentang salah satu anggota keluarga, meliputi identitas, ciri – ciri fisik, dan dilengkapi dengan foto/gambar dalam kompetensi dasar menyusun teks lisan dan tulis untuk memaparkan dan menanyakan jati diri dengan topik diri sendiri, orang tua, kakak, adik, maupun famili.

Contoh pembelajaran menggunakan Project Based Learning lainnya adalah membuat video rekaman percakapan dalam kompetensi dasar menyusun teks lisan dan tulis sederhana untuk menyatakan, menanyakan, dan merespon ungkapan memberi instruksi, mengajak, melarang dan meminta izin.

Dengan diberikannya proyek tersebut siswa terlihat lebih antusias dalam belajar dan mereka sangat kreatif dalam pembuatan poster maupun video rekaman. Para siswa membuat poster menggunakan kertas warna – warni dan diberi hiasan yang bervariasi sesuai kreativitas mereka dan setelah itu dipresentasikan di depan siswa – siswa yang lain.

Dalam pembuatan video yang dilakukan secara kelompok, siswa dapat menggunakan kamera pada mobile phone, digital kamera atau kamera apapun yang mereka miliki. Siswa juga diberi kesempatan untuk mengkreasikan tema, teks dialog dan adegan.

Di sini terbukti bahwa penggunaan Project Based Learning mampu meningkatkan motivasi belajar dan kreativitas siswa. Selain itu, guru juga perlu lebih kreatif dan selektif dalam memberikan proyek. Tujuannya agar proyek yang diberikan betul – betul dapat menjadi wahana yang baik untuk meningkatkan kreativitas dan minat belajar siswa. (*/aro)