TETAP EKSIS: Sejumlah anggota Secac saat melakukan reuni beberapa waktu lalu. (DOK. SECAC)
TETAP EKSIS: Sejumlah anggota Secac saat melakukan reuni beberapa waktu lalu. (DOK. SECAC)
TETAP EKSIS: Sejumlah anggota Secac saat melakukan reuni beberapa waktu lalu. (DOK. SECAC)

SELAIN kartunis Kaliwungu Kendal, karya-karya para kartunis Kota Semarang juga banyak mewarnai media cetak negeri ini. Di Kota Atlas, terdapat komunitas kartunis yang cukup legendaris. Namanya Semarang Cartoon Club atau Secac. Kelompok kartunis ini berdiri pada 1982. Saat berdiri memiliki anggota mencapai 150 orang. Sekarang jumlah anggota yang tercatat mencapai lebih dari 200 orang. Namun dari jumlah tersebut, yang aktif hanya 25 orang. Salah satunya Abdullah Ibnu Thalhah.

Thalhah –sapaan akrabnya–merupakan anggota aktif dari komunitas yang pendiriannya juga melibatkan Bos Jamu Jago Jaya Suprana ini. Kepada Radar Semarang, Thalhah menceritakan latar belakangan berdirinya Secac. Kesamaan hobi dan keinginan untuk maju membuat komunitas ini terbentuk. Anggotanya tidak hanya berasal dari lokal Semarang, tapi ada juga yang berasal dari luar Kota Semarang bahkan luar Pulau Jawa.

“Banyak juga yang dari luar Jawa. Umumnya mereka adalah mahasiswa rantau yang kos di Semarang. Kebetulan mereka juga menyukai dunia kartunis. Sehingga banyak yang bergabung,” ujar Thalhah kepada Radar Semarang, Sabtu (17/1).
Dikatakannya, latar belakang anggota komunitas ini beragam. Mulai mahasiswa, guru, wartawan, hingga ilustrator di media massa.

Diungkapkan, tak sedikit alumnus komunitas ini yang kini memiliki nama besar. Misalnya, Leak Kustiya yang pernah menjadi kartunis utama Jawa Pos, bahkan pernah menjabat pimpinan redaksi Jawa Pos, dan kini menjadi salah satu direktur di koran terbesar di Indonesia tersebut. Nama lain, sebut Thahlah, adalah Prie GS, yang pernah menjadi kartunis Harian Suara Merdeka. Selain mengadakan pameran, anggota komunitas ini kerap mengikuti festival kartunis di dalam maupun luar negeri.

Dikatakan, sekarang ini posisi kartunis di media massa patut diperhitungkan. Karena selain wartawan, kartunis juga merupakan ujung tombak media. “Melalui karya seorang kartunis, bisa membangun opini masyarakat,” katanya.
Meski begitu, seorang kartunis juga harus memperhatikan etika-etika dalam berkarya. Sehingga tidak terkesan sembarangan. Ia mencontohkan banyak kasus yang terjadi karena ulah kartunis yang tidak memperhatikan hal itu.

“Misalnya kasus majalah mingguan Charlie Hebdo di Prancis. Para kartunis di majalah tersebut seakan menghalalkan semuanya demi terkenalnya sebuah karya, dengan menggambar karikatur nabi dan karya-karya kontroversial yang sarat akan SARA. Kalau di dalam negeri, para kartunis tidak melakukan hal itu, karena dampak sosial yang ditimbulkan jelas negatif,” ujarnya.

Dikatakannya, meski memiliki kebebasan dalam berkarya, namun kartunis Indonesia sangat memperhatikan hal-hal yang dapat memicu konflik. Sehingga karya-karya kartunis dalam negeri lebih banyak menyisipkan sisi humorisnya.

Salah satu dedengkot Secac, Koesnan Hoesi, mengatakan, meski latarbelakang para kartunis dalam komunitas ini berbeda-beda, namun didominasi oleh kartunis-kartunis yang bekerja di media massa. Sehingga sedikit banyak karya-karya yang dihasilkan pun lebih ke kartun opini. Selain itu, menurutnya, perkembangan kartunis pada era sekarang lebih baik karena ditunjang infrastruktur dan teknologi yang mumpuni.

“Kartunis sekarang itu lebih mudah mempelajari sesuatu dengan membuka internet. Di dalamnya banyak sekali pelajaran. Namun begitu, hal tersebut juga memiliki kekurangan dan kelebihan karena dengan adanya internet jadinya sedikit manja,” katanya.

Diungkapkan Koesnan, 90 persen kartunis di Indonesia merupakan produk dari komunitas Secac. Hal itu yang secara tidak langsung mengangkat nama komunitas ini.

“Banyak nama-nama besar yang dulunya ikut dalam kumpulan para kartunis ini (Secac). Terkadang kita juga sering kumpul. Melepas rindu karena lama tidak jumpa, dan juga pernah dulu tahun 2010 saat momentum kelahiran Secac kembali, kita bersama-sama bertekad agar Secac bisa tetap berkarya,” ujarnya.

Koesnan yang juga pernah menjadi ilustrator di sebuah harian lokal Semarang tersebut kini memiliki aktivitas yang juga tidak jauh dari profesi awalnya itu. Ia masih kerap mendapatkan order menggambar karikatur untuk media massa, dan tetap berkarya dengan mengadakan pameran.

“Melalui pameran itu kita berharap dapat menciptakan kartunis yang direspon bagus. Banyak juga kartunis yang ikut pameran yang pernah kita buat. Tidak hanya dari dalam negeri, bahkan juga luar negeri, yang pada saat itu diikuti oleh 43 negara,” katanya. (ewb/aro)