MASIH EKSIS: Pengurus Kokkang. Dari kiri: Suyono, Abdul Qodir, Zaenal Abidin, Muchid Rahmat dan Budi Santosa berfoto bersama, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
MASIH EKSIS: Pengurus Kokkang. Dari kiri: Suyono, Abdul Qodir, Zaenal Abidin, Muchid Rahmat dan Budi Santosa berfoto bersama, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
MASIH EKSIS: Pengurus Kokkang. Dari kiri: Suyono, Abdul Qodir, Zaenal Abidin, Muchid Rahmat dan Budi Santosa berfoto bersama, kemarin. (BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
PENUH KRITIK: Karikatur karya salah satu anggota Kokkang. (REPRO: BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)
PENUH KRITIK: Karikatur karya salah satu anggota Kokkang. (REPRO: BUDI SETYAWAN/RADAR SEMARANG)

Ada sejumlah kelompok kartunis di Jateng tetap eksis hingga sekarang. Dua di antaranya Kokkang dan Secac. Bahkan, dua kelompok kartun legendaris ini sudah berusia 33 tahun. Seperti apa kondisinya sekarang?

TRAGEDI penembakan yang menewaskan 12 orang di kantor majalah satire Charlie Hebdo belum lama lalu, tak lepas dari karya karikatur provokatif yang menghiasi majalah mingguan tersebut. Hal itu membuktikan jika karikatur cukup berperan penting dalam mempengaruhi opini di masyarakat.

Bicara karikatur, tentu kita tak bisa melupakan kelompok Kokkang. Hampir semua media cetak di negeri ini yang punya rubrik kartun, memuat karya anggota komunitas tersebut.

Kokkang atau Kelompok Kartunis Kaliwungu kini sudah berusia 33 tahun. Tepatnya berdiri sejak 1982 silam. Sesuai namanya, komunitas yang didirikan Itos Boedy Santosa dan Darminto M Sudarmo (Odios) ini berlokasi di Kecamatan Kaliwungu, Kendal.

Meski sudah puluhan tahun, tapi anggota Kokkang masih menunjukkan konsistensinya sebagai kartunis dengan mengirimkan goresan gambar sebagai kartunis lepas. Tidak hanya sebagai kartunis lepas saja, bahkan kartunis jebolan Kokkang saat ini banyak yang menjadi pengisi rubrik kartun tetap maupun sejenisnya di hampir semua media cetak di Indonesia.

Salah satu pendiri Kokkang, Itos Boedy Santosa, menjelaskan, Kokkang berdiri 10 April 1982. Tepatnya saat ada pameran kartun nasional yang digelar oleh Paguyuban Kartunis Yogyakarta (Pakyo). “Era-era itu memang gambar kartun banyak digemari masyarakat,” katanya kepada Radar Semarang, Minggu (18/1).

Kala itu, ia dan Darminto M Sudarmo sama-sama menonton dan memiliki hobi sama, yakni membuat gambar kartun.

“Langsung kami bentuk Kokkang itu, dan apreasiasi dari warga Kaliwungu ternyata banyak, bahkan di awal berdirinya anggotanya mencapai 70 orang lebih,” kenangnya.

Ketertarikannya membentuk Kokkang, lantaran saat itu rubrik kartun di era 1980 hingga 1990-an memberikan ruang besar. Selain itu, keterampilan menggambar lebih mudah diajarkan ketimbang menulis. Dan, alasan ketiga, kata dia, lantaran honor yang dijanjikan setiap media cetak dirasa menggiurkan. Bahkan, diakui Itos, pada era tersebut, dirinya mampu hidup serbakecukupan tanpa perlu kerja, dan mampu membiayai kuliah dari honor membuat kartun.

“Saya sendiri awalnya penulis. Ya menulis artikel di media massa. Saya berpikir, untuk membuat satu tulisan saya harus menghabiskan tiga sampai empat buku agar tulisan saya bagus. Sementara untuk menggambar, saya tidak perlu lama untuk meneliti sesuatu, cukup dengan berimajinasi saja,” kata dosen Universitas Wahib Hasyim (Unwahas) Semarang ini.

Eksistensi Kokkang saat itu boleh dibilang paling besar di Indonesia. Sebab, hampir semua media cetak memiliki rubrik kartun dan momen tersebut dimanfaatkan untuk dijajaki oleh anggota Kokkang. Kokkang inilah yang menurutnya menginsiprasi terbentuknya komunitas-komunitas kartun di Indonesia. Seperti Semarang Cartoon Club (Secac), Kartunis Bandung (Karung), Padepokan Kartunis Kendal (Pokal), Kelompok Kartunis Purwokerto (Kelakar), Ikatan Kartunis Banjarmasin (Ikan Asin), Terminal Kartunis Ungaran (Terkatung) dan sebagainya. Rata-rata kelompok kartun tersebut berdiri setelah Kokkang eksis.

Karena karya kartunis itu ditujukan untuk konsumsi media massa, maka tolok ukur keberhasilan anggota Kokkang kala itu tidak lain adalah ketika kartunnya dimuat di media massa. “Dimuat di media massa saat itu menjadi kebanggaan sekaligus kepuasan tersendiri bagi Kokkang,” imbuh Sekretaris Umum Dewan Kesenian Jateng ini.

Untuk menjaga kualitas kartun, anggota Kokkang saat itu selalu rutin mengadakan pertemuan setiap Sabtu dan Minggu. Dalam pertemuan, membahas isu-isu aktual dan mempertajam keterampilan membuat kartun kepada anggota baru.

“Sehingga ketika ada kesulitan, para anggota baru ini bisa bertanya kepada seniornya,” jelas Ketua Umum Dewan Kesenian Kendal ini.

Tak hanya media massa saja, para anggota Kokkang juga kerap meraih juara dalam kejuaraan kartun internasional. Seperti Itos pernah mendapatkan penghargaan tujuh kali even pameran maupun lomba Kartun Internasional. Di antaranya penghargaan Spot Chosun Seoul Korea, The Yomiuri Shimbun Tokyo di Jepang dan Nasereddin Hoca Caricature Yarismasi Istambul, Turki.

Tapi, seiring berkembangnya media, kini rubrik kartun mulai berkurang. Begitu pun dengan Kokkanng, banyak anggotanya mulai tersisih satu persatu. Bahkan kini Kokkang mulai kehilangan penerusnya, lantaran menjadi kartunis bukan lagi menjadi pekerjaan yang menjanjikan.

“Semua sibuk dengan pekerjaanmasing-masing, sudah jarang kumpul, membuat even pameran, ataupun regenerasi. Meski begitu saya bangga pernah menjadi guru dan membesarkan banyak orang dari kartun. Sebab kini anggota Kokkang hampir tersebar di media-media cetak besar di Indonesia,” katanya. (bud/aro)