DISKUSI: Salah satu pembicara, Triyono Lukmantoro, saat persentasi di acara diskusi Skandal Charlie Hebdo kemarin. (Aditya Dwi/Radar Semarang)
DISKUSI: Salah satu pembicara, Triyono Lukmantoro, saat persentasi di acara diskusi Skandal Charlie Hebdo kemarin. (Aditya Dwi/Radar Semarang)
DISKUSI: Salah satu pembicara, Triyono Lukmantoro, saat persentasi di acara diskusi Skandal Charlie Hebdo kemarin. (Aditya Dwi/Radar Semarang)

SEMARANG BARAT – Seorang karikaturis media massa selain dapat menjelaskan isi berita juga harus dapat melukiskan sebuah opini. Hal tersebut diungkapkan oleh Pramono Pamujo, mantan Ketua Persatuan Karikaturis Indonesia (Pakarti), dalam diskusi bedah kasus Charlie Hebdo, Kamis (15/1). Selain itu, menurut karikaturis senior dalam media massa itu mengatakan seorang karikaturis juga harus memiliki wawasan luas.

”Charlie Hebdo mengkritik siapa saja. Ini lah yang harus diperhatikan para karikaturis, bahwa karikaturis harus memahami SARA. Di dunia pers harus menghindari hal itu,” ujar Pramono.

Selain pandai memvisualisasikan sebuah berita ke dalam gambar, sebagai kartunis juga harus dapat menjadi seorang wartawan. Menurutnya, seorang karikaturis harus memiliki kemampuan intelektual seperti seorang wartawan.

”Ia harus merasakan juga suatu perkejaan seperti wartawan yang tidak kenal waktu. Itu harus dilakukan oleh seorang karikaturis, kalau mau menjadi karikaturis yang baik,” lanjutnya. Selain itu, kartunis di media massa juga di tuntut memiliki produk yang menyejukkan, mencerdaskan bangsa dan pembaca.

”Tidak bisa sebebas-bebasnya. Yang terjadi dalam kasus yang melatarbelakangi penembakan brutal Charlie Hebdo yaitu karikaturis yang tidak memperhatikan etika. Karya karikaturis jangan sampai menyinggung SARA. Sebuah karikatur selalu memiliki efek magis, karena bisa membuat orang bergerak melakukan sesuatu seperti apa yang dilukiskan kartunis,” lanjutnya.

Dikatakan karikatur yang menggambarkan sebuah opini harus bebas dan bertanggung jawab. Menurutnya, selama ini kartunis di Indonesia belum dapat menjadi karikatur opini, karena sebagian besar karyanya masih didominasi lelucon daripada sebuah opini. ”Terkait kasus Charlie Hebdo tersebut, saya pernah mengusulkan ke PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) pusat, agar karikaturis dididik seperti wartawan, agar ia mengerti betul bagaimana kehidupan menjadi seorang wartawan dan dapat menyampaikan ilustrasi berita lebih baik,” tuturnya.

Sementara itu, Pakar Komunikasi Universitas Diponegoro (Undip) Triyono Lukmantoro mengatakan, seorang karikaturis haruslah belajar sebuah ilmu jurnalistik. Hal itu dimaksudkan agar dalam memvisualisasikan sebuah berita masih dalam lingkup kode etik pemberitaan. ”Humor dalam kartun editorial memang harus lucu. Kartun harus menyajikan kebenaran, beretika, akuntabilitas, meminimalkan kerugian, dan independen. Persoalan kode etik, seorang kartunis harus hormat kepada orang lain dan ajaran agama orang lain, serta tidak boleh berbohong, sesuai prinsip-prinsip jurnalistik,” pungkas Triyono. (ewb/zal/ce1)