DEMAK – DPRD Demak memanggil pihak Rumah Sakit Pelita Anugerah Mranggen, untuk mengetahui kronologis jelas meninggalnya Muthoharoh, 27, warga RT 6 RW 4, Demak usai operasi caesar di Rumah Sakit tersebut. Tindakan ini menindaklanjuti aduan keluarga korban ke DPRD yang tidak bisa menerima kejadian tersebut. Keluarga korban geram, karena pihak rumah sakit terkesan tertutup dan tidak mau memberikan penjelasan atas kematian Muthoharoh korban.

Mereka yang diundang yakni Direktur RS Pelita Anugerah, dr Hestu Waluyo didampingi beberapa dokter; Kepala Dinas Kesehatan Demak, dr Iko Umiyati; Kepala Puskesmas Guntur II, dr Nura Ma’shumah; Bidan Mursidah yang sebelumnya merujuk pasien ke rumah sakit dan pihak keluarga. Tampak, suami korban, Fery Murjamanto, 30, ibu korban Sumarni, 58, dan pihak keluarga lainnya.

Wakil Ketua DPRD Demak, Fahrudin Bisri Slamet yang memimpin pertemuan itu menegaskan, persoalan medis diakui cukup rumit untuk dipahami orang awam atau warga biasa. Meski demikian, hak mereka sebagai pasien tidak bisa diabaikan begitu saja. “Karena pihak keluarga merasa dipimpong rumah sakit sehingga akhirnya mengadu ke DPRD,” katanya.

Pihak keluarga, tahunya jika sebelum meninggal korban dalam kondisi sehat. Meski dalam perkembangannya kemudian kondisi korban memburuk. Terkait operasi caesar yang berdampak pada risiko kematian ibu melahirkan, dr Suparitono dari RS Pelita Anugerah mengatakan, pihaknya telah melakukan audit kasus tersebut. Menurutnya saat pasien (korban) dirujuk ke rumah sakit dalam kondisi hamil lanjut sehingga harus segera ditangani. “Hasil audit kami bahwa kematian ini menjadi risiko medik. Ini setelah melihat kondisi kegawatan pada ibu saat itu yang tidak bisa diprediksi. Sedangkan, janinnya bisa ditangani maksimal,” katanya.

Dr Aris Sukarno menambahkan, ia diberitahu tim medis RS Pelita bahwa ada pasien dalam kondisi darurat. Mestinya, yang bertugas adalah dr Arif. Namun, karena dokter yang bertugas tidak ada akhirnya ia langsung menanganinya. Dalam keadaan seperti itu, sebelum operasi dilakukan pihaknya telah memintai persetujuan keluarga pasien, utamanya suami korban, Fery Murjamanto. Pihak rumah sakit berdalih sudah menerangkan soal risiko yang kemungkinan dihadapi dalam operasi karena korban dalam kondisi ibu hamil yang berisiko. Pihak keluarga pun meminta supaya ibu dan anak bisa diselamatkan. Namun, ternyata ada yang tidak bisa diperdiksi. Sebab, dalam proses operasi tersebut dari tekanan darah yang stabil tiba-tiba berubah menjadi pendarahan.

“Jadi, penyebab kematiannya adalah saat operasi dilakukan pembuluh darah terbuka dan terjadi pendarahan. Kemudian, aliran darah yang ke paru-paru dan jantung tersumbat atau emboly (sumbatan). Ini tidak bisa diprediksi dan terjadi tiba-tiba,” tambahnya. Untuk menghentikan pendarahan tim medis berusaha mengangkat rahim korban. Namun, ternyata usaha itu gagal dan korban akhirnya meninggal.

Kepala Puskesmas Guntur II, dr Nura Ma’shumah menuturkan, Bidan Mursidah yang merujuk pasien adalah bidan praktik mandiri di Desa Blerong. Meski demikian, setiap ada ibu risiko tinggi tetap melaporkan ke puskesmas. Saat periksa ke bidan, usia kandungan korban sudah 44 minggu atau sekitar 10 bulan. Artinya, saat melahirkan punya risiko tersendiri, termasuk pendarahan. “Sebelum ke RS Pelita Anugerah, pasien sehari sebelumnya sudah dibawa ke RS Sultan Agung Semarang. Tapi karena belum ada tanda persalinan akhirnya kembali lagi. Keesokan harinya baru dirujuk ke RS Pelita Anugerah Mranggen,”katanya.

Pihak puskesmas juga sudah memberikan gambaran rumah sakit yang bisa untuk merujuk. Karena korban merupakan warga Desa Blerong, Kecamatan Guntur, maka memilih yang dekat yakni ke RS Pelita Anugerah tersebut. “Untuk merujuk ini sudah sesuai protap yang ada dipuskesmas,” imbuhnya.
Meski telah mendapatkan penjelasan panjang lebar dari berbagai pihak itu, pihak keluarga korban belum dapat menerima kematian korban. “Kita belum bisa menerima,” kata kakak sepupu korban, Mansur. Sementara suami korban, Fery Murjamanto terlihat tertunduk lesu dan tidak mau bicara. Pria yang sehari-hari bekerja di proyek bangunan tersebut hanya berdiam. Mutohar, saudara kembar dempet korban (Muntoharoh) mengatakan, pihak keluarga tidak dapat menerima kondisi tersebut. (hib/fth)