Ketua DPRD Jateng Diperiksa

183
JADI SAKSI: Mantan Wagub Jateng Rustriningsih dan Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi saat menjadi saksi dalam sidang pemotongan dana Bansos di Pengadilan Tipikor Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
JADI SAKSI: Mantan Wagub Jateng Rustriningsih dan Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi saat menjadi saksi dalam sidang pemotongan dana Bansos di Pengadilan Tipikor Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)
JADI SAKSI: Mantan Wagub Jateng Rustriningsih dan Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi saat menjadi saksi dalam sidang pemotongan dana Bansos di Pengadilan Tipikor Semarang kemarin. (ADITYO DWI/RADAR SEMARANG)

MANYARAN – Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi dan mantan Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih, Selasa (13/1) kemarin, dihadirkan sebagai saksi dalam sidang kasus dugaan pemotongan dana bantuan sosial (Bansos) bidang pendidikan dan keagamaan Kabupaten Kebumen tahun 2008 yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang. Keduanya dimintai keterangan dalam kapasitasnya sebagai saksi untuk terdakwa Rahmat, 50, mantan Kepala Desa Kedungjati, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen. Rahmat berperan sebagai koordinator desa yang mengajukan dana bansos di Kebumen. Nama Rukma dan Rustriningsih sebelumnya santer disebut para saksi dalam persidangan.

Dalam persidangan yang dipimpin hakim ketua Antonius Widjantono tersebut berlangsung cepat sekitar 20 menit, dimulai pukul 14.55 hingga 15.15 bertempat di ruang sidang II. Jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Kebumen dan hakim hanya menanyakan seputar biodata dan prosedur proposal dana bansos kepada kedua saksi.

Rustriningsih mendapat sebanyak 10 pertanyaan dari JPU, 2 dari hakim ketua dan 4 dari kuasa hukum terdakwa. Sedangkan Rukma Setyabudi mendapat 6 pertanyaan dari JPU, 1 dari hakim ketua dan 5 dari kuasa hukum terdakwa

Dalam persidangan tersebut, JPU Yosep menanyakan ke Rukma Setyabudi apakah mengenal Bagong, selaku pihak yang membawa proposal pengajuan dana bantuan sosial (bansos) bidang pendidikan dan keagamaan Kabupaten Kebumen 2008. Rukma menjawab tegas kalau dirinya mengenal Bagong, namun waktu itu ia masih menjabat Ketua Komisi D DPRD Jateng.

”Bagong itu bekas sopir saya, dia bekerja dengan saya sekitar 3 tahun, tahun 2004 hingga 2007, setelah itu mudur. Setelah keluar, saya pernah melihat dia di pangkalan taksi. Saya juga beberapa kali melihat Bagong berkunjung ke kantor Fraksi PDIP di Gedung Berlian DPRD Jateng. Tapi saya tidak tahu apa yang dilakukan Bagong di kantor fraksi tersebut,” jawab Rukma

Sedangkan Rustriningsih saat ditanya seputar prosedur pengajuan proposal bansos, menjelaskan panjang lebar. Ia juga menambahkan jika pengajuan proposal yang dilakukan terdakwa hanya diketahui tingkat kecamatan tidak melalui Pemerintah Kabupaten Kebumen, yang saat itu dirinya menjabat sebagai bupati. ”Saya melihatnya dibawa orang ke orang, jadi tidak mengetahuinya,” katanya

Seperti diketahui, dalam kasus pemotongan dana bansos keagamaan dan pendidikan dari Pemprov Jateng untuk Kabupaten Kebumen yang terjadi pada 2008 ini, mantan Kades Kedungjati, Rahmat, menjadi terdakwa. Dia merupakan orang yang mengumpulkan para kades penerima bantuan.

Diduga seluruh dana hasil potongan yang dikumpulkan Untung Suparyono itu diserahkan kepada Riyanto, yang saat itu menjadi anggota DPRD Jateng dari Fraksi PDIP. Setelah diserahkan kepada Riyanto, dana itu kemudian diserahkan kepada Bagong (sekarang buron), sopir Rukma Setyabudi. Rukma sendiri saat itu menjabat Ketua Komisi D DPRD Jateng.

Jumlah dana bansos yang dihimpun Untung bersama Rahmat dari para kades sebesar Rp 635 juta. Dari keterangan para saksi dalam persidangan sebelumnya, setiap penerima bantuan hanya diberikan Rp 5 juta dari bantuan sebesar Rp 40 juta-Rp 70 juta. Kemudian, dari potongan bantuan itu terkumpul uang Rp 635 juta, yang diduga digunakan untuk pemenangan pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Bibit Waluyo-Rustriningsih. (mg21/aro/ce1)